Nusantaraterkini.co, BINJAI - Unjuk rasa Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Binjai (APMB) di depan pintu gerbang Kantor Wali Kota Binjai berlangsung ricuh, Kamis (2/4/2025).
Puluhan massa yang geram mencoba mendobrak pintu pagar besi dan membakar ban bekas di depan gerbang.
Kordinator aksi, Oza Hasibuan mengatakan, kericuhan terjadi lantaran massa geram dengan pihak Pemko Binjai yang tidak merespon aksi tersebut.
Baca Juga : Unjuk Rasa di Sumut Dituding Penuh Kekerasan, Cipayung Plus Minta Copot Kapolri dan Kapolda Sumut
"Satu pun perwakilan dari Pemko Binjai tidak ada menemui kami. Mereka menganggap remeh, sehingga timbul kemarahan massa dan melakukan aksi pembakaran ban bekas serta mendobrak pintu gerbang," ujar Oza, Kamis (2/4/2026).
Dalam aksi ini, kata Oza, mahasiswa menyoroti kinerja Kadis PUPR Binjai serta infrastruktur jalan di Kota Binjai yang mengalami kerusakan dan hingga saat ini belum ada perbaikan.
"Masyarakat Binjai sudah lelah dengan janji-janji manis yang tidak kunjung terealisasi. Jalanan kita hancur, nyawa pengendara terancam setiap hari, sementara pejabat yang berwenang seolah menutup mata. Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar rotasi jabatan yang tidak berdampak," ujar Oza di tengah kerumunan massa.
Baca Juga : Bambu Kuning Ikut Mewarnai Kericuhan Aksi Unjuk Rasa di Depan Gedung DPRD Sumut
Kritik Keras terhadap "Kadis Impor"
Salah satu poin krusial dalam tuntutan aksi adalah penolakan terhadap sosok Kadis PUPR Binjai yang dianggap sebagai "orang luar" atau pejabat impor.
APMB menilai bahwa kebijakan ini mencederai potensi putra daerah yang lebih memahami kondisi geografis dan sosiologis Kota Binjai.
"Mengapa harus impor dari luar daerah? Apakah di Binjai sudah tidak ada lagi putra terbaik yang mampu mengurus jalan? Akibatnya, pejabat tersebut tidak memiliki ikatan emosional dengan kota ini dan bekerja tanpa rasa memiliki," tambah Oza dengan nada tegas.
Ancaman "Hutan Pisang" di Tengah Kota
Sebagai bentuk protes lanjutan yang lebih ekstrem, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Binjai mengancam akan melakukan aksi simbolis yang unik namun menohok. Jika dalam waktu dekat tidak ada perbaikan signifikan, mereka berkomitmen untuk menanam 1.000 bibit pohon pisang di sepanjang jalanan yang berlubang.
"Jika jalan ini tidak segera diperbaiki, kami akan mengubahnya menjadi kebun pisang. Setidaknya, pohon pisang lebih berguna bagi warga daripada lubang yang hanya mengundang maut," tegas Oza.
Pernyataan Sikap APMB
Dalam aksi ini, APMB mendesak Pemerintah Kota Binjai untuk segera melakukan perbaikan jalan secara menyeluruh dan permanen.
Mereka juga meminta evaluasi Kinerja Kadis PUPR yang dianggap gagal dan tidak memahami prioritas pembangunan daerah.
"Kami menuntut transparansi anggaran pemeliharaan jalan yang selama ini dinilai tidak jelas peruntukannya," tegas Oza.
Usai menyampaikan aspirasinya, masa akhirnya membubarkan diri meskipun pengawalan dari pihak kepolisian tetap ketat. Massa berjanji akan kembali dengan jumlah yang lebih besar jika tuntutan mereka diabaikan oleh pemangku kebijakan.
(Dra/nusantaraterkini.co).
