Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Di Bawah Langit yang Sama, Merawat Pancasila dalam Kehidupan

Editor :  Akbar
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Peringatan Hari Lahir Pancasila yang acapkali dirayakan setiap tahun pada 1 Juni (Montase Nusantaraterkini.co)

Oleh: M Sofyan Akbar

PAGI itu, matahari perlahan muncul dari balik cakrawala Nusantara. Cahayanya menyentuh sawah di pedesaan, memantul di gedung tinggi perkotaan, dan menyapa jutaan manusia yang memulai harinya dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang berangkat ke sekolah, ada yang membuka waring kecil di pinggir jalan, ada yang bergegas menuju ke kantor, ada pula yang sedang berlayar di lautan, menjaga perbatasan negeri.

Baca Juga : Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Kapolda Sumut: Nilai Persatuan Fondasi Utama Keutuhan Bangsa

Mereka berbeda bahasa, suku, budaya, bahkan keyakinan. Namun di bawah langit yang sama, mereka dipersatukan oleh satu nama, yakni Indonesia.

Bertepatan pada 1 Juni 2026, bangsa ini kembali mengingat sebuah pondasi yang selama puluhan tahun menjadi perekat keberagaman itu, yakni Pancasila.

81 tahun silan, tepatnya 1 Juni 1945, sebuah gagasan besar lahir di tengah pergulatan bangsa yang sedang mencari jati diri. Gagasan itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cita-cita tentang bagaimana sebuah bangsa yang begitu beragam dapat hidup bersama dalam satu rumah yang sama. Rumah itu bernama Indonesia.

Baca Juga : Firman Soebagyo: Pancasila Harus Dihidupi, Bukan Sekadar Dihafal

Sejak saat itu, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara. Ia menjadi kompas yang menuntun perjalanan bangsa melewati berbagai zaman. 

Mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, pembangunan, sampai kepada era digital yang serba cepat seperti sekarang ini.

Namun, seyogyanya, Pancasila tidak hidup di dalam buku pelajaran, ia hidup di tengah masyarakat, ia hadir dalam tindakan sederhana yang acapkali luput dari perhatian.

Baca Juga : Polda Metro Jaya Kerahkan 6.088 Personel Amankan Aksi Mahasiswa di Jakarta

Di tengah derasnya arus informasi, tantangan bangsa ini tentu berbeda apabila dibandingkan pada masa lalu. Peran media sosial membuat informasi menyebar dalam hitungan detik seakan teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi. Dunia menjadi semakin terbuka.

Di saat yang bersamaan, perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertengkaran. Hoaks menyebar lebih cepat daripada kebenaran yang ada. Toleransi terkadang diuji oleh kepentingan sesaat dari kelompok elit.

Di sinilah Pancasila kembali menemukan relevansinya. Ia mengingatkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami. 

Baca Juga : Menggugat Hegemoni Little Red Dot, Membalikkan Paradoks Center-Periphery

Indonesia Negara yang Unik

Lebih dari 17 ribu pulai terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ratusan bahasa daerah hidup berdampingan. Beragam adat dan budaya tumbuh dalam harmoni yang tidak selalu mudah dijaga. 

Namun, selama puluhan tahun, bangsa ini tetap berdiri, bukan karena semua orang selalu sepakat, melainkan karena ada kesadaran bahwa persatuan jauh lebih penting daripada perpecahan.

Kesadaran itulah yang menjadi ruh Pancasila. Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, bukan hanya upacara, spanduk, ataupun pidato.

Baca Juga : Lawan Predator Seksual, Rico Waas: Jangan Takut Bersuara

Ia merupakan momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, ya diri sendiri. Misalnya, sudahkah kita menghormati perbedaan? Sudahkah kita berlaku adil kepada sesama? Sudahkah kita menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi? 

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana, namun jawabannya menentukan masa depan bangsa Indonesia.

Di tengah kesibukan kita, Pancasila tetap hidup, bukan dalam bentuk simbol semata, melainkan dalam setiap tindakan baik yang dilakukan anak bangsa itu sendiri.

Baca Juga : Tanggapi Lagu Viral Mas Bahlil Ganteng, Sekjen Golkar: Menghibur, Bukan Body Shaming

Dalam setiap uluran tangan kepada sesama, dalam setiap sikap saling menghormati, dalam setiap upaya menjaga persatuan.

Karena, pada akhirnya pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa. Pancasila merupakan tanggungjawab kita semua. Tanggungjawab untuk menjaga Indonesia tetap menjadi rumah yang nyaman bagi siapapun yang hidup didalamnya.

Di bawah langit yang sama, tanah yang sama, di negeri yang bernama Indonesia. Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Mari merawat Persatuan, menjaga keberagaman, dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah kehidupan. (*) 

Penulis merupakan Wakil Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumut