Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Diplomasi Parlemen: Strategi DPR RI Menjadi Jembatan Perdamaian di Tengah Gejolak Global

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Anggota Komisi I DPR Oleh Soleh. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang terus memanas di berbagai belahan dunia menjadi tantangan besar bagi upaya menjaga stabilitas dan perdamaian internasional.

Konflik yang berkepanjangan di sejumlah kawasan, rivalitas antarnegara besar, hingga ancaman keamanan baru akibat perkembangan teknologi dan ekonomi global menuntut hadirnya berbagai jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.

Baca Juga : Terima Ketua Parlemen Korea Selatan, Ketua MPR Bahas Investasi hingga Aksi Heroik WNI Penyelamat Warga di Seoul

Di tengah situasi tersebut, diplomasi parlemen semakin mendapat perhatian sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun komunikasi lintas negara.

Baca Juga : Sinergi Strategis PUI dan BKSAP DPR RI Perkuat Diplomasi Multitrack untuk Kawasan

DPR RI sebagai representasi rakyat Indonesia dinilai memiliki peran strategis dalam menjembatani dialog, memperkuat kerja sama internasional, sekaligus membawa semangat perdamaian yang selama ini menjadi bagian dari politik luar negeri Indonesia.

Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh mengatakan diplomasi parlemen menjadi pelengkap penting bagi diplomasi yang dijalankan pemerintah. Menurutnya, parlemen memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara yang tengah menghadapi ketegangan politik.

Baca Juga : Kurniasih Mufidayati: Pendidikan Bukan Sekadar Sistem, Tapi Investasi Masa Depan Bangsa

"Di tengah bara geopolitik global yang semakin kompleks, parlemen harus hadir sebagai jembatan dialog. Indonesia memiliki tradisi politik luar negeri bebas aktif yang selalu mengedepankan perdamaian dan kerja sama. Nilai-nilai itu harus terus diperjuangkan melalui diplomasi parlemen," ujar Oleh Soleh, Sabtu (13/6/2026).

Baca Juga : Dinkes Catat Angka TBC di Sumsel Tembus 6.699 Kasus per Mei 2026, Palembang Terbanyak

Ia menjelaskan, keikutsertaan DPR dalam berbagai forum internasional seperti pertemuan antarparlemen regional maupun global memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan pandangan mengenai pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan parlemen sering kali lebih efektif dalam membangun kepercayaan karena berlangsung dalam suasana yang lebih terbuka dibandingkan diplomasi formal antar-pemerintah.

Baca Juga : Soal Perjalanan ke Luar Negeri, Gerindra: Prabowo Jaga Keseimbangan Geopolitik

"Hubungan antaranggota parlemen memungkinkan terbangunnya komunikasi yang lebih cair. Dari situ lahir berbagai inisiatif kerja sama yang dapat membantu meredakan ketegangan dan memperkuat hubungan antarnegara," kata Legislator dapil Jabar ini.

Baca Juga : Jaga Jalur Pelayaran Dunia, RI-Malaysia-Singapura Komit Perkuat Keamanan Selat Malaka

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana. Ia menilai diplomasi parlemen kini menjadi bagian penting dari tata kelola hubungan internasional modern yang tidak lagi hanya bertumpu pada pemerintah sebagai aktor utama.

Menurut Hikmahanto, kompleksitas tantangan global menuntut keterlibatan berbagai elemen negara, termasuk lembaga legislatif. Dalam banyak kasus, forum antarparlemen mampu menjadi ruang alternatif untuk membangun komunikasi ketika hubungan diplomatik formal menghadapi hambatan.

"Parlemen memiliki legitimasi politik karena mewakili suara rakyat. Dalam konteks diplomasi, posisi ini memberikan nilai tambah karena pesan-pesan yang disampaikan tidak hanya mencerminkan kebijakan negara, tetapi juga aspirasi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal diplomatik yang kuat karena selama ini dikenal sebagai negara yang aktif mendorong perdamaian, dialog, dan kerja sama multilateral.

"Peran DPR dalam berbagai forum internasional dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten memperjuangkan penyelesaian konflik secara damai. Ini penting ketika dunia sedang menghadapi polarisasi yang semakin tajam," kata Hikmahanto.

Sementara itu, Pengamat Politik Luar Negeri dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai meningkatnya ketidakpastian global membuat diplomasi parlemen memiliki relevansi yang semakin besar.

Menurut Arya, dunia saat ini sedang mengalami perubahan lanskap geopolitik yang ditandai dengan persaingan kekuatan besar, fragmentasi ekonomi global, serta munculnya berbagai krisis lintas negara yang memerlukan kerja sama internasional.

"Dalam situasi seperti ini, setiap saluran komunikasi harus dimanfaatkan. Diplomasi parlemen menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu menjaga dialog tetap terbuka di tengah meningkatnya rivalitas antarnegara," ujarnya.

Arya menilai DPR RI memiliki peluang besar untuk memainkan peran sebagai penghubung antara negara-negara berkembang dan negara maju dalam berbagai isu strategis, mulai dari keamanan, perdagangan, hingga perubahan iklim.

Menurutnya, posisi Indonesia yang relatif diterima oleh berbagai kelompok negara menjadi modal penting dalam membangun jembatan komunikasi di tingkat global.

"Indonesia sering dipandang sebagai negara yang mampu berbicara dengan semua pihak. Keunggulan ini harus dimanfaatkan melalui diplomasi parlemen yang aktif, substansial, dan berorientasi pada solusi," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, DPR RI tercatat aktif berpartisipasi dalam berbagai forum internasional, termasuk pertemuan parlemen negara-negara ASEAN, organisasi parlemen dunia, hingga forum-forum tematik yang membahas isu perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan kerja sama ekonomi.

Keterlibatan tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional, tetapi juga menjadi sarana untuk memperjuangkan berbagai kepentingan nasional. Di saat yang sama, diplomasi parlemen juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam menciptakan stabilitas global.

Pengamat menilai tantangan ke depan akan semakin kompleks. Konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ancaman keamanan siber, ketahanan pangan, hingga dampak perubahan iklim membutuhkan pendekatan yang lebih kolaboratif.

Dalam konteks itu, parlemen tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang dan pengawas pemerintah, tetapi juga sebagai aktor diplomasi yang mampu membangun jejaring kerja sama internasional.

Di tengah bara geopolitik yang terus menyala, kiprah Parlemen Senayan menjadi bagian dari upaya Indonesia menjaga tradisi diplomasi yang mengedepankan dialog dan perdamaian. 

Melalui komunikasi lintas negara yang inklusif dan konstruktif, DPR RI diharapkan terus memainkan peran sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan demi terciptanya dunia yang lebih stabil, aman, dan damai.

(LS/Nusantaraterkini.co)