Harga Bahan Pokok Tetap Tinggi Jelang Lebaran, Ini Kata Peneliti
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Menjelang lebaran yang tinggal menghitung hari, kebutuhan harga bahan pokok dipasaran masih saja tinggi.
Baca Juga : Turun Rp50.000, Harga Emas Antam Sabtu 15 November 2025 Terjun Bebas ke Rp2.348.000 Per Gram
Hal ini pun menyebabkan masyarakat merasa bingung dan menjadi panik karena harus memenuhi kebutuhan sebelum hari raya Idul Fitri.
Baca Juga : Pemerintah Diminta Tak 'Bertangan Besi' Intervensi Harga Pasar Produk Beras
Menanggapi itu, Peneliti Core Indonesia, Muhammad Ishak Razak menuturkan, ada beberapa penyebab naiknya harga barang menjelang lebaran.
Hal pertama yakni, permintaan cenderung meningkat, terutama untuk bahan makanan, pakaian, dan transportasi. Beberapa komoditas juga mengalami hambatan pasokan, seperti beras yang disebabkan oleh keterlambatan masa tanam.
Baca Juga : Warga Sumsel Diminta Tidak Panic Buying Jelang Idul Adha
"Harga komoditas pangan tertentu terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar rupiah, terutama komoditas dengan porsi impor yang besar. Seperti diketahui saat ini rupiah mengalami pelemahan yang cukup dalam sekitar 4 persen dari akhir tahun lalu, dari 15300 menjadi mendekati 16 ribu per dollar AS," kata Ishak kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (2/4/2024).
Baca Juga : Jelang Idul Adha, Sekdakab Deliserdang Pastikan Stok Pangan Aman
"Sebagai contoh, kedelai yang mayoritas diimpor menyebabkan kenaikan harga tahu dan tempe, serta bahan pakan ayam yang sekitar 60 persen diimpor mengakibatkan naiknya harga ayam dan telur. Demikian pula dengan daging sapi yang sekitar 60 persen diimpor," sambungnya.
Selain itu, Ishak menjelaskan, biaya transportasi cenderung naik menjelang lebaran, sehingga biaya logistik menjadi lebih mahal dan biasanya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual barang.
Baca Juga : Pelabuhan Ajibata ke Pulau Samosir Sepi Jelang Lebaran
Terlebih, kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sebagian pedagang untuk melakukan spekulasi dengan menimbun barang agar dapat dijual saat permintaan tinggi.
Baca Juga : Jelang Lebaran, Pemerintah Diminta Prioritaskan Pengendalian Inflasi di Daerah
"Dalam kondisi seperti itu, pemerintah bertanggungjawab untuk mempermudah pasokan atau meningkatkan pasokan dari daerah-daerah yang mengalami surplus, atau dari negara lain, sehingga kejadian seperti ini tidak terus-terus berulang. Namun, hal ini membutuhkan data yang akurat mengenai proyeksi produksi komoditas-komoditas yang biasanya menyumbang inflasi tinggi menjelang lebaran," tegasnya.
Lebih lanjut ia menilai, sementara itu ketergantungan impor yang sangat tinggi merupakan peer lama yang tak pernah diselesaikan dengan baik. Hanya janji-janji politik yang muncul menjelang pemilu setelah selesai dilupakan.
Sementara untuk mengatasi fluktuasi rupiah memang perlu perbaikan sistem moneter kita yang selama ini masih menggunakan mata uang kertas dan sangat dipengaruhi oleh dolar AS.
(cw1/nusantaraterkini.co)
