Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Ketidakpastian Konflik Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Selat Hormuz Masih Ditutup, Harga Minyak Dunia Naik 11 Persen dalam Sepekan. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan awal pekan, Senin (1/6/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian terkait peluang tercapainya kesepakatan damai yang dapat mengakhiri konflik di Iran.

Berdasarkan data pasar internasional, minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus tercatat naik 2,1 persen menjadi USD 93,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli menguat 2,4 persen ke level USD 89,48 per barel.

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sepanjang akhir pekan. Kedua negara disebut terus melakukan komunikasi untuk membahas perubahan rancangan perjanjian yang bertujuan memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar AS

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai kemajuan signifikan dalam perundingan tersebut. Kondisi ini membuat investor kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sebelumnya, optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai sempat menekan harga minyak dan menyebabkan penurunan bulanan pertama sepanjang tahun 2026. Namun, belum adanya titik temu dalam negosiasi membuat sentimen pasar kembali berubah.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, harga minyak Brent masih mencatat kenaikan lebih dari 25 persen. Penutupan hampir total Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, telah memicu gejolak besar di pasar minyak global.

Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS

Ekonom independen kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Hamzeh Al Gaaod, menilai proses negosiasi masih menghadapi jalan buntu karena masing-masing pihak tetap mempertahankan tuntutan utama mereka.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum memberikan pernyataan terbaru mengenai perkembangan pembicaraan dengan Iran setelah menghadiri rapat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Jumat lalu. Dalam kesempatan tersebut, Trump menyatakan harapannya agar perjanjian untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dapat segera diumumkan.

Trump juga kembali menegaskan sejumlah tuntutan Washington, termasuk penghentian program nuklir Iran dan pemulihan penuh status Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang terbuka bagi aktivitas perdagangan global.

Baca Juga : Harga Minyak Dunia Melemah Usai Ketegangan Iran di Selat Hormuz Mulai Mereda

Pasar kini menunggu hasil lanjutan perundingan kedua negara yang dinilai akan menjadi faktor utama penentu arah pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.

(Dra/nusantaraterkini.co).