Nusantaraterkini.co, MEDAN - Harga minyak mentah global kembali naik pada perdagangan awal sesi Asia Kamis (10/10/24), dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan permintaan bahan bakar akibat badai besar yang menghantam Florida, Amerika Serikat.
Para pelaku pasar semakin waspada akan risiko gangguan pasokan minyak di tengah situasi politik yang memanas dan bencana alam yang berdampak luas.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent naik 37 sen atau 0,5% menjadi USD 76,95 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 35 sen atau 0,5% menjadi USD 73,59 per barel pada pukul 00:34 GMT. Meskipun kenaikan ini terbilang moderat, faktor-faktor yang mendorong pergerakan harga menjadi sorotan utama, khususnya bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Baca Juga : Israel Klaim Tewaskan Anggota Pasukan Quds Iran dalam Serangan di Lebanon
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin memberikan pandangannya terkait kenaikan harga minyak dunia ini melalui WhatsApp (10/10/2024), dengan menggarisbawahi dampak yang bisa sangat signifikan bagi Indonesia.
"Hal yang paling dikhawatirkan dari kenaikan harga minyak mentah dunia adalah beban neraca dagang Indonesia yang berpotensi membengkak," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak global akan memaksa Indonesia menyesuaikan harga BBM di dalam negeri, karena sebagian besar kebutuhan BBM diimpor.
Gunawan mencatat bahwa harga minyak mentah dunia saat ini berada di sekitar USD 74 per barel, sedikit menurun dibandingkan harga pada 7 Oktober yang mencapai USD 77 per barel. Penurunan ini, menurutnya, sempat dipengaruhi oleh harapan pasar akan stimulus ekonomi tambahan dari China. Namun, ketidakpastian yang timbul dari peningkatan ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, kembali mendorong harga minyak naik.
Ia menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik selalu menjadi faktor yang sulit diprediksi.
"Sejak 2022, tensi geopolitik global terus meningkat, dan ini menjadi salah satu pemicu utama volatilitas harga minyak mentah dunia," ujar Gunawan.
Situasi ini, menurutnya, menambah kerumitan bagi negara-negara seperti Indonesia yang bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dia juga menyebut badai di Amerika Serikat mungkin tidak akan memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan harga minyak dunia. Ia justru menyoroti perlambatan ekonomi global sebagai faktor yang lebih krusial dalam menjaga stabilitas harga minyak.
"Sejauh ini, perlambatan ekonomi di berbagai negara cenderung menekan konsumsi BBM. Banyak negara mengurangi penggunaan energi mereka seiring dengan menurunnya aktivitas manufaktur dan produk domestik bruto (PDB)," ungkapnya.
Namun, di sisi lain, perang dan ketidakpastian geopolitik dapat memicu lonjakan harga yang sifatnya tak terduga.
"Perang di berbagai kawasan telah terbukti mengganggu pasar energi global dan menciptakan gejolak harga. Untuk Indonesia, harga minyak mentah tetap menjadi faktor utama yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi ke depan," tambahnya.
Dengan harga minyak yang terus berfluktuasi, situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pelaku pasar di Indonesia. Selain harus menghadapi tantangan dari sisi geopolitik dan bencana alam, negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, juga harus siap mengantisipasi dampak jangka panjang dari dinamika ekonomi global yang melambat dan ketegangan yang terus meningkat di berbagai belahan dunia.
Salah satu pendorong utama kenaikan harga minyak adalah badai besar yang menerjang Florida. Badai ini menyebabkan kekacauan di sektor energi, dengan permintaan bahan bakar melonjak drastis. Kondisi ini diperparah dengan lebih dari seperempat stasiun bahan bakar di negara bagian tersebut kehabisan pasokan, yang semakin meningkatkan tekanan pada pasar minyak mentah.
Permintaan bensin yang melonjak ini, meski sifatnya sementara, memberi dampak besar pada harga minyak global. Badai besar di kawasan Amerika Serikat sering kali mengganggu distribusi bahan bakar, memaksa para pelaku pasar bersiap menghadapi potensi kelangkaan pasokan di berbagai wilayah.
Selain faktor alam, perkembangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah turut menambah tekanan pada harga minyak.
Israel, melalui Menteri Pertahanan Yoav Gallant, secara terbuka mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran, negara yang merupakan salah satu produsen minyak utama dunia.
Gallant berjanji bahwa serangan tersebut akan "mematikan, tepat, dan mengejutkan," yang membuat banyak pihak khawatir akan potensi gangguan pasokan minyak dari wilayah tersebut.
Ketegangan antara Israel dan Iran bukanlah hal baru, namun eskalasi baru-baru ini, dengan ancaman serangan langsung, telah membuat pasar minyak semakin gelisah. Iran, sebagai pemain besar dalam pasar energi global, memiliki pengaruh signifikan terhadap pasokan minyak dunia. Setiap potensi gangguan pada produksi minyak dari Iran diperkirakan akan mendorong harga minyak lebih tinggi, terutama mengingat ketergantungan banyak negara pada minyak dari kawasan tersebut.
(cw9/nusantaraterkini.co)
