Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Tancap Gas di Awal 2026, Analis Prediksi Pasar Saham Berpotensi Naik hingga 10%

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
BEI sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt). (BAY ISMOYO/AFP)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengawali tahun 2026 dengan performa impresif. Pada hari perdagangan pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,17% dan ditutup di level 8.748,13, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Penguatan ini menjadi sinyal bahwa fondasi fundamental pasar domestik masih kokoh, seiring membaiknya sentimen global dan meningkatnya minat terhadap aset berisiko di kawasan emerging market.

Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai lonjakan IHSG di awal tahun sebagai penanda penting arah pasar sepanjang 2026.

Baca Juga : IHSG Melonjak 7,38% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Bursa Tembus Rp10.524 Triliun

“Lonjakan IHSG pada hari perdagangan pertama 2026 menunjukkan sinyal yang sangat kuat dari pasar. Ini menjadi awal yang optimistis untuk tahun yang berpotensi menjadi fase terobosan bagi Indonesia,” ujar Shan, Sabtu (3/1/2026).

Ia menambahkan, konsensus pelaku pasar saat ini memperkirakan potensi kenaikan IHSG berada di kisaran 8 hingga 10 persen sepanjang tahun ini.

“Permintaan domestik yang solid serta meningkatnya kepercayaan investor menjadi faktor utama penopang pasar saham Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga : IHSG Terbang 3 Hari Beruntun, Ini Saham Konglomerat yang Jadi Buruan Investor Asing

Dari sisi valuasi, Shan menilai saham-saham di Indonesia masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis, sehingga tetap menarik bagi investor global yang selektif.

“Indonesia semakin dipandang sebagai pilar penting di pasar berkembang dengan kualitas fundamental yang kuat,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang melihat penguatan IHSG sebagai bagian dari reli bursa Asia.

Baca Juga : IHSG Awali Perdagangan dengan Koreksi ke 5.701

“IHSG menguat sekitar 1,2% ke level 8.748, sejalan dengan kenaikan mayoritas indeks saham Asia. Ini dipicu aksi beli investor setelah profit taking menjelang akhir 2025,” ujar Andry.

Dari sisi makroekonomi, Andry menilai kondisi domestik tetap terjaga meski terjadi perlambatan moderat di sektor manufaktur.

“PMI manufaktur Indonesia turun ke level 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi. Permintaan domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan,” jelasnya.

Baca Juga : IHSG Tertekan Tajam, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut hingga Sentuh Level 5.100

Ia juga menyoroti pergerakan aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp1,1 triliun di pasar saham, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05%, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi,” ungkap Andry.

Dengan kombinasi penguatan IHSG, arus masuk dana asing, serta penurunan imbal hasil obligasi, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang relatif kuat.

Dukungan kebijakan yang kredibel, daya beli domestik yang tetap solid, serta valuasi pasar yang atraktif menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan sebagai destinasi investasi utama di Asia Tenggara, bukan sekadar reli sesaat, melainkan bagian dari tren penguatan yang lebih berkelanjutan.

(Dra/nusantaraterkini.co).