Kapolda Sumut Ajak Masyarakat dan Media Sukseskan Pemilu
Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi menjadi pembicara pada talkshow yang digelar salah satu media di Ballroom Hotel Grand Mercure, Kota Medan, Senin (6/11/2023).
Baca Juga : Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Kapolda Sumut: Nilai Persatuan Fondasi Utama Keutuhan Bangsa
Talkshow tersebut mengusung tema 'Bersandar pada Negara Wujudkan Kolaborasi Presisi untuk Terciptanya Pemilu Damai 2024 dan Bermartabat Tanpa Hoaks'.
Baca Juga : Rumahnya Dirusak, Warga Medan Polonia Polisikan Oknum ASN Pemko Medan
Dalam materi sambutannya, Agung mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mensukseskan Pemilu 2024.
"Pemilu damai harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk media massa," katanya.
Baca Juga : 23 Orang Jendral yang Sudah Menjadi Kapolda di Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro Terlama
Menurutnya, media massa dinilai penting karena memberikan informasi lalu memunculkan persepsi di tengah masyarakat. Kemudian, persepsi inilah yang kemudian akan berkembang dan terus menjadi konsumsi.
Baca Juga : Kunjungi Polda Sumut, Pj Gubernur Sumut Bahas Persiapan PON hingga Pilkada 2024
"Pemilu damai, harus kerja bareng seluruh lapisan masyarakat, lembaga negara, pemerintah, masyarakat dan media. Kenapa media penting, karena mengantar informasi. Karena informasi memunculkan persepsi jadi bagaimana kita mendorong informasi, dan ketika ada problem harus ada solusi," jelasnya.
Agung mengatakan, pada pemilu 2019, masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok yang kemudian menjadi polarisasi. Tapi tahun ini hingga tahun 2024, polarisasi sudah berkurang karena masyarakat dinilai sudah bijak.
Baca Juga : ICW Kritik Wacana Pilkada via DPRD: Bandingkan Anggaran Rp37 Triliun dengan Makan Gratis Rp71 Triliun
"Pada tahun ini sudah berkurang. Karena masyarakat kita juga sudah terus meningkat kecerdasan dan kesadarannya. Untuk itu perlu edukasi dengan masyarakat. Karena itu perlu kerja sama antar media, lembaga pemerintah dan pendidikan, ahli peneliti, kerjasama internasional dan masyarakat," tuturnya.
Baca Juga : Bolehkah Yudikatif Berperan Legislatif?
Meski begitu, Agung menyampaikan di tengah meluasnya arus informasi saat ini, tantangan lain dalam menghadapi pemilu juga mesti dikelola. Salah satunya persoalan hoaks atau berita bohong.
Agung menyebutkannya, hoaks menimbulkan permasalahan karena bertentangan dengan prinsip kejujuran etika dan integritas. Apalagi, sebutnya, saat ini media informasi di Indonesia sangat banyak. Karena itu, Agung meminta agar media bisa menjadi lembaga yang menyaring berita yang keliru.
"Sekarang 18 ribu media saat ini bagaimana media mengelola informasi untuk melawan hoaks. Begitu juga media sosial bagaimana dapat dikelola dengan baik. Karena pemilu ada untuk menentukan pemimpin, karena negara perlu seorang pemimpin, karena itu negara harus menghasilkan pemimpin melalui pemilu," pungkasnya.
(zie/Nusantaraterkini.co)
