Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Perancis kembali menjadi sorotan publik. Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai intensitas lawatan Presiden di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih menghadapi tantangan seharusnya menjadi bahan evaluasi pemerintah.
Fernando mengatakan, pemerintah perlu lebih fokus menangani persoalan ekonomi dalam negeri, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah dan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Baca Juga : Prabowo Bertemu Jusuf Kalla: Bahas Investasi Rp70 Triliun untuk Swasembada Energi Nasional
“Dalam situasi perekonomian yang kurang baik dan dampaknya sangat dirasakan masyarakat, seharusnya Presiden lebih mengutamakan berada di Indonesia dibandingkan melakukan kunjungan ke luar negeri,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).
Baca Juga : Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 kepada Dirjen ILO
Menurut Fernando, Presiden bersama jajaran tim ekonomi perlu mengambil langkah konkret untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat.
Ia juga mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri Presiden yang dinilai terlalu sering.
Baca Juga : Prabowo Pastikan Aspirasi Rakyat Didengar: DPR akan Cabut Tunjangan dan Moratorium Kunjungan Luar Negeri
Bahkan, Fernando menyindir adanya kemungkinan “obsesi” mencatatkan rekor kunjungan luar negeri terbanyak oleh seorang presiden.
Selain itu, Fernando mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjalankan kepemimpinan nasional. Ia menilai Presiden terlalu banyak mendengarkan kelompok tertentu di lingkaran dekat dibandingkan menyerap masukan dari berbagai elemen masyarakat.
Baca Juga : Lawatan Prabowo ke Luar Negeri Bagian dari Pelaksanaan Politik Bebas Aktif
“Kalau memang serius memimpin Indonesia, seharusnya Presiden menerima masukan dan kritik dari berbagai pihak, termasuk terkait seringnya melakukan kunjungan ke luar negeri,” katanya.
Baca Juga : Di Tengah Pelemahan Rupiah, Azis Subekti: Kekuatan Ekonomi Indonesia Ada di Pasar Domestik
Fernando juga menyoroti sejumlah program unggulan pemerintah yang dinilai belum berjalan optimal dan masih terkesan terburu-buru dalam pelaksanaannya.
Di sisi lain, Anggota DPR Fraksi Gerindra, Bahtra Banong, membela agenda kunjungan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan lawatan tersebut merupakan bagian dari diplomasi strategis negara yang telah direncanakan jauh hari dan tidak seharusnya dipelintir menjadi polemik politik hanya karena bertepatan dengan momentum Idul Adha.
Baca Juga : Soal Perjalanan ke Luar Negeri, Gerindra: Prabowo Jaga Keseimbangan Geopolitik
“Ini bukan perjalanan pribadi Presiden, tetapi tugas negara. Agenda kenegaraan seperti ini disusun melalui komunikasi diplomatik antarnegara yang panjang dan terukur. Kebetulan waktunya bertepatan dengan Idul Adha,” ujar Bahtra.
Menurut Bahtra, di tengah situasi geopolitik dan ekonomi global yang semakin tidak pasti, Presiden Prabowo tengah memperjuangkan kepentingan nasional melalui penguatan hubungan strategis Indonesia dengan sejumlah negara besar, termasuk France yang disebut sebagai mitra penting Indonesia di sektor pertahanan, investasi, teknologi, energi, dan industri strategis.
Ia juga menyinggung kedekatan hubungan Presiden Prabowo dengan Presiden Emmanuel Macron dalam setahun terakhir. Bahkan sebelumnya, Prabowo disebut menjadi tamu kehormatan dalam peringatan Bastille Day tahun 2025.
“Yang harus dilihat publik adalah manfaat konkret untuk bangsa, mulai dari peluang investasi, penguatan ekonomi, transfer teknologi, hingga peningkatan posisi tawar Indonesia di tingkat global. Jangan agenda negara dipersempit menjadi framing simbolik yang bernuansa politis,” tegas Bahtra.
Bahtra menilai langkah Presiden Prabowo aktif dalam forum internasional menunjukkan posisi Indonesia semakin diperhitungkan di dunia global.
“Semakin aktif Presiden Prabowo diterima dalam forum internasional menunjukkan bahwa Indonesia semakin dihormati dan diperhitungkan dalam percaturan global,” katanya.
Ia menambahkan, meski momentum kunjungan kerja bertepatan dengan hari raya, Presiden tetap menjalankan tugas kenegaraan demi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.
“Kesediaan Presiden Prabowo keluar negeri di momen hari raya membuktikan bahwa kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia berada di atas segala-galanya. Ini adalah bentuk pengabdian seorang kepala negara,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
