Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menolak Lupa: 21 Tahun Kematian Munir Said Thalib

Editor :  hendra
Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Para aktivis Aksi Kamisan Medan menggenggam poster-poster sosok Munir saat aksi refleksi kematian Munir dan 10 korban tewas dalam unjuk rasa yang terjadi di Indonesia beberapa waktu terakhir, Kamis (4/9/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

nusantaraterkini.co, MEDAN - Kelompok aktivis dari Aksi Kamisan Medan menggelar aksi di kawasan Pos Bloc Jalan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, pada Kamis (4/9/2025). Aksi tersebut merupakan refleksi atas kasus kematian Munir Said Thalib yang hingga sekarang belum tuntas.

Sahrul Ramadhan, salah satu peserta aksi menjelaskan, jika mengenang kematian Munir itu penting. Sebab, sosok Munir sendiri dianggap sebagai figur yang tulen memperjuangkan kepentingan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Munir itu sosok perlawanan. Kasus kematiannya juga memantik api perlawanan untuk kita, saya khususnya sebagai anak muda,” kata Sahrul saat diwawancarai Nusantaraterkini.co di lokasi, pada Kamis malam.

Baca Juga : Makna Hardiknas, Akademisi: Pendidikan jadi Kunci Kemajuan Bangsa

Kasus kematian Munir pada 7 September 2004 silam, dianggap sebagai kasus yang tidak mampu dituntaskan oleh negara. Pasalnya, mereka menuding aktor utama pembunuhan Munir hingga saat ini masih berkeliaran.

“Kasus Munir ini merupakan dosa negara dan itu akan terus dikenang hingga generasi selanjutnya. Dan itu, harus tuntas,” lanjut Sahrul.

Selain Munir, mereka juga mengenang kasus dugaan kekerasan yang menewaskan sebanyak 9 orang dalam gelombang unjuk rasa yang terjadi di banyak wilayah di Indonesia.

Baca Juga : Komisi III Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis HAM

Aksi itu dirangkai dengan menyalakan lilin di antara foto-foto para korban tewas, menyanyikan lagu Gugur Bunga, hingga mengheningkan cipta. Selain itu, luapan protes terhadap pemerintah juga lantang diserukan oleh mereka.

Payung hitam yang juga merupakan ciri khas gerakan mereka juga diletakkan berderet. Poster-poster dengan ragam kata dan warna digenggam erat oleh para aktivis yang kompak mengenakan pakaian serba hitam.

Gana, salah satu aktivis yang terlibat dalam gerakan refleksi itu menjelaskan, jika gerakan refleksi mereka bentuk ekspresi kekecewaan atas pemerintah yang dianggap selama 21 tahun kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir belum tuntas.

Baca Juga : Aksi Kamisan Medan Refleksikan Kematian Munir dan Korban Kekerasan Unjuk Rasa

“Selain itu, kami juga mengampanyekan kondisi Indonesia yang hari ini darurat kekerasan,” ucap Gana saat diwawancarai di lokasi.

Aksi itu dimulai sekitar pukul 17.50 WIB dan berakhir hingga pukul 19.20 WIB. Selama itu para peserta aksi bergantian berorasi. Menjelang malam mereka kemudian menyalakan lilin untuk mengenang para korban yang dianggap dibunuh oleh aparat selama gelombang unjuk rasa yang belakangan ini terjadi.

Pada momen yang sama mereka kemudian hening sambil menundukkan kepala. Mereka terlihat khidmat pada momen itu.

Baca Juga : Komisi X Dorong Keberpihakan pada PTS dan Perbaikan Tata Kelola Pendidikan Tinggi Nasional

“Dari aksi ini kami sebenarnya berharap pemerintah dapat menjalankan aspirasi-aspirasi masyarakat. Karena itu tidak berjalan tema kali ini juga adalah Indonesia darurat kekerasan,” tutur Gana.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)