Sara: Kalau Nggak Nyoblos, Nggak Punya Hak Untuk Demo
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Wakil Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Fanta (Pemilih Muda) Prabowo-Gibran Rahayu Saraswati Djojohadikusumo alias Sara mengatakan tidak ada hak bagi pemilih yang tidak nyoblos atau golput untuk menggelar demo.
Baca Juga : Rahayu Saraswati: Ada Gerakan Mendorong Golput karena Banyak Pemilih Muda Mendukung Prabowo-Gibran
Sara awalnya mengungkap ada gerakan untuk mendorong pemilih muda supaya golput karena mengetahui sebagian besar pendukung Prabowo-Gibran adalah pemilih muda. Dia meminta agar pemilih muda datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak pilih.
Baca Juga : Rahayu Saraswati: Jokowi dan Prabowo Sosok Senior yang Membuka Ruang Bagi Anak Muda
"Kita harus menyepakati lintas paslon bahwa partisipasi politik bukan hanya hak tapi adalah tanggung jawab kita sebagai warga negara," kata Sara saat memberi sambutan di acara deklarasi Pemuda Teman Gibran (Paten) di Kartanegara, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2024).
Sara mengatakan bahwa Indonesia sangat diapresiasi negara lain karena memiliki partisipasi pemilih yang tinggi di Pemilu. Dia mengatakan Australia sangat mengapresiasi Indonesia karena memiliki partisipasi pemilih tinggi di Pemilu meski tidak adanya hukum yang mengatur jika tidak memilih.
Baca Juga : TKN Siapkan Strategi Khusus Terkait Munculnya Salam 4 Jari
"Saya masih ingat waktu saya ke Australia, bertemu dengan politisi-politisi di sana, mereka kaget dan kagum bahwa di Indonesia bisa mencapai 80 persen partisipasi tanpa diharuskan. Karena di Australia itu keharusan ada pidananya, ada sanksinya kalau terbukti tidak milih bayangkan kita nggak ada sanksinya kalau kalian nggak milih," ungkapnya.
Baca Juga : Bundaran HI Tak Diizinkan Jadi Lokasi Unjuk Rasa, Polda Metro Jaya: Epicentrum Lalu Lintas Jakarta
Sara menegaskan bahwa di Indonesia hak pilih adalah sebuah privilege. Karena, kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini, di beberapa negara warganya tidak bisa memilih.
"Jadi fakta bahwa kalian bisa milih itu privilege. Suara kalian di hari itu sama dengan presiden, sama dengan suara profesor, semuanya sama. Jadi tolong ini disuarakan," ujarnya.
Baca Juga : 2 Terduga Provokator Pembawa Molotov di Tengah Aksi Mahasiswa di Jakarta Diamankan Polisi
Sara menilai kritik akan menjadi omong kosong jika pemilih itu ternyata tidak nyoblos atau golput. Meskipun demikian, Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar) ini mengaku tidak mempersoalkan jika seseorang menggunakan hak pilih lalu mengritisi ataupun menggelar aksi demonstran di jalan.
"Omong kosong kalian mengritisi, ngapain demo, maklum soalnya pernah anggota DPR tahu rasanya di demo. Jangan sampai nanti yang nggak nyoblos malah yang demo, kalau nggak nyoblos kalian cuci tangan dengan masa depan bangsa ini, nggak punya hak untuk demo," tegas keponakan Prabowo Subianto ini.
Menurutnya ini penting untuk diingat pemilih muda sebagai generasi penerus bangsa bahwa agar menggunakan hak pilih atau tidak golput.
"Kita harus mengingatkan pada generasi muda bahwa kritikan terbesar kalian, masukan terbesar kalian itu adalah pada saat pencoblosan. Di situ kalian putuskan masa depan mau dibawa kemana," pungkasnya.
(HAM/nusantaraterkini.co)
