Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Fase pertama pembukaan kembali Selat Hormuz akan mencakup pencabutan blokade Amerika Serikat (AS).
Hal ini dilaporkan oleh The Washington Post pada Senin (25/5/2026), mengutip seorang pejabat Iran.
Baca Juga : AS dan Iran Kembali Memanas, Saling Serang Picu Ketegangan Baru di Kawasan Teluk
"Seorang pejabat Iran, yang berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan pembukaan Selat tersebut akan dilakukan secara bertahap," urai laporan The Washington Post.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Ketidakpastian Konflik Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pada fase pertama, AS akan mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743), pembersihan ranjau di selat tersebut akan dimulai, dan blokade AS akan dicabut.
Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara kedua pihak tidak mencakup kesepakatan nuklir, melainkan hanya sebuah komitmen untuk merundingkan isu nuklir tersebut di kemudian hari, mengutip pernyataan pejabat Iran tersebut.
Baca Juga : Iran Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain dengan Drone, IRGC Ancam Tingkatkan Serangan
Kendati demikian, laporan itu juga mengutip pernyataan seorang pejabat senior AS yang mengatakan bahwa nota kesepahaman tersebut mengikat pihak Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir, termasuk "menyerahkan debu nuklir.
Sementara, Presiden AS Donald Trump menulis di akun Truth Social miliknya bahwa negosiasi dengan Iran berjalan lancar.
"Perjanjian tersebut hanya akan menjadi kesepakatan yang bagus bagi semua pihak atau, tidak ada kesepakatan sama sekali. Kembali ke garis depan pertempuran dan saling tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan tak ada seorang pun yang menginginkan itu!" sebut Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada awak media mengatakan, dirinya menilai hal itu sebagai kesepakatan yang cukup solid di meja perundingan terkait kemampuan untuk membuka selat tersebut, memastikannya terbuka, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, berjangka waktu tertentu mengenai masalah nuklir.
"Semoga kami bisa mewujudkannya," sebutnya.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
