Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) mengungkapkan, proses penyerapan gabah petani di tengah masa panen gadu saat ini menghadapi kendala teknis.
Hal itu terjadi akibat cuaca yang tidak menentu dan terbatasnya sarana pengering (dryer) di wilayah sentra produksi.
Baca Juga : Bulog Sumsel Babel Serap 99.466 Ton Beras Petani hingga Juni 2026
“Kendala dalam penyerapan tetap ada, terutama di wilayah sentra produksi yang masih menggunakan lantai jemur karena sarana dryer masih terbatas,” ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga : Bulog Gelar Operasi Pasar di Lemabang Palembang, MinyaKita Dijual Rp15.500 Per Liter
Ihsan menjelaskan, lantai jemur konvensional mengakibatkan proses pengeringan gabah menjadi lebih lama, serta berisiko menurunkan kualitas mutu beras yang dihasilkan.
“Penggunaan lantai jemur yang masih dominan membuat gabah lebih lama kering saat cuaca mendung. Jika kadar air sudah di bawah 18 persen, gabah hanya dapat disimpan sementara sebelum dikeringkan kembali hingga mencapai standar 14 persen,” jelasnya.
Baca Juga : Cadangan Beras 2.642 ton, Dido Peto Sifarif : Aman hingga Tiga Bulan
Kondisi musim hujan juga menjadi hambatan tersendiri, karena petani cenderung mengurangi intensitas panen akibat lahan yang basah dapat merusak alat mesin pertanian.
Baca Juga : Perum Bulog Padangsidimpuan Siap Lakukan Penyerapan Gabah Kering di Tabagsel
Untuk menyiasati hal tersebut, para petani biasanya baru memulai aktivitas pemanenan pada siang hari guna memastikan kondisi sawah telah cukup kering sehingga alat panen tidak mengalami kemacetan saat dioperasikan.
“Biasanya petani menunggu hingga sekitar pukul 10.00 WIB atau 11.00 WIB setelah kondisi sawah mengering, agar alat tidak macet saat digunakan,” katanya.
Baca Juga : Stok Beras Sumsel Babel Capai 93 Ribu Ton, Bulog Jamin Aman Hingga Akhir 2026
Ihsan menyebut, panen di wilayah Sumsel berlangsung sepanjang tahun karena perbedaan waktu tanam di tiap kabupaten, sehingga ketersediaan pasokan tetap terjaga.
Oleh sebab itu, pihaknya memastikan jika ketersediaan stok beras masih mencapai 93.000 ton dan aman untuk mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026.
“Untuk Sumatera Selatan stok sekitar 91.000 ton, sedangkan Sumsel dan Bangka Belitung sekitar 93.000 ton dan dinilai cukup hingga akhir tahun,” ucap dia.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
