Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.650, Pengamat: Picu Gejolak Ekonomi dan Antrean Panjang

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Rizal Oloan Nasution
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
SPBU Pertamina di Jalan Simarlian Kosong, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. (Foto: Rizal Oloan Nasution/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, PADANGSIDIMPUAN - Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Indra Fauzan menilai, kenaikan harga Pertamax akan sangat mempengaruhi sendi kehidupan masyarakat. 

Baik itu sumber penghasilan, mobilisasi sosial, ekonomi maupun juga politik. 

Baca Juga : Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.650, Warga Padangsidimpuan Keluhkan Beban Ekonomi

Seperti diketahui, kenaikan harga Pertamax terjadi sebesar Rp 4.050 dari sebelumnya Rp12.600 menjadi Rp 16.650 per liter. 

Baca Juga : Pertamina Terbitkan Harga Baru BBM, Ini Rinciannya

Fauzan mengatakan, meski BBM yang naik adalah nonsubsidi, akan tetap mempengaruhi kinerja ekonomi masyarakat, karena masyarakat akan memburu BBM yang lebih murah.

"Maka ujung-ujungnya antrian yang panjang dan memakan waktu, menghambat mobilitas bahkan bisa saja stok kurang," ungkapnya, kepada Nusantaraterkini.co, Jumat (12/6/2026). 

Baca Juga : Iluni UI Desak Pemerintah Perketat LHKPN untuk Tekan Korupsi

Fauzan berpendapat, kebijakannya itu pasti sudah disusun lama dan melalui proses penghitungan yang matang, kemudian baru dinaikkan. Hanya saja, menurutnya, dikeluarkan keputusan tersebut tanpa adanya aba-aba dari pemerintah. 

Baca Juga : Sartono Hutomo: Kenaikan Harga Pertamax Demi Jaga APBN, Dampak Ekonomi Harus Diantisipasi

"Mungkin lebih takut kepada keterkejutan massal dari masyarakat kalau diumumkan akan menimbulkan moral panik, sehingga masyarakat akan panic buying aksi borong BBM di SPBU, akan menimbulkan gejolak sosial," pungkasnya.

(Ron/Nusantaraterkini.co) 

Baca Juga : Barisan Garda Depan UI Kritik Pemerintah: Jangan Hanya Pidato, Tunjukkan Hasil