Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Ambles 4 Persen dan Rupiah Tembus Rp18.176, Pemerintah Diminta Tak Hanya Andalkan Retorika

Editor :  hendra
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Anggota Komisi XI DPR Marwan Jafar Minta Pemerintah Respon Cepat IHSG yang Amblas dan Rupiah Kian Melemah (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Guncangan hebat melanda pasar keuangan domestik pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga 4 persen atau turun 246 poin ke level 5.349 pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026). Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga terus tertekan hingga menyentuh Rp18.176 per dolar AS.

Merespons kondisi tersebut, Anggota Komisi XI DPR Marwan Jafar mendesak pemerintah dan otoritas moneter segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan gejolak yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Marwan, pelemahan tajam rupiah dan anjloknya pasar saham merupakan sinyal serius yang tidak boleh dianggap sebagai fluktuasi biasa. Ia menilai pemerintah perlu menunjukkan arah kebijakan yang jelas agar kepanikan pasar tidak semakin meluas.

Baca Juga : DPR Ingatkan Potensi Residential Outflow, BI dan Kemenkeu Diminta Waspada

“Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG ini adalah sinyal bahaya. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar yang tepat. Kondisi darurat seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa arah kebijakan yang jelas,” kata Marwan, Selasa (9/6/2026).

Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) itu menilai tekanan di pasar keuangan tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi dan respons pemerintah. Kondisi tersebut mendorong aksi jual besar-besaran yang semakin menekan IHSG dan rupiah.

Marwan memperingatkan bahwa jika pemerintah gagal membangun kepercayaan pasar melalui komunikasi dan kebijakan yang meyakinkan, risiko keluarnya dana asing dalam jumlah besar atau capital outflow akan semakin tinggi.

Baca Juga : DPR Soroti Gangguan Coretax, Minta Audit Sistem dan Perpanjangan Pelaporan SPT

“Sentimen investor memegang kendali besar. Ketika pelaku pasar melihat pemerintah punya strategi mitigasi yang jelas dan respons cepat, tekanan terhadap rupiah bisa diredam. Sebaliknya, jika ketidakpastian dipelihara, pasar keuangan kita bisa lumpuh,” ujarnya.

Ia menegaskan, krisis di sektor keuangan tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan angka di layar perdagangan. Dampaknya berpotensi langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

Menurutnya, kurs rupiah yang berada di level Rp18.000 per dolar AS akan meningkatkan biaya impor bahan baku industri dan berisiko memicu tekanan inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

“Semakin cepat kepercayaan pasar dipulihkan, semakin besar peluang kita melindungi masyarakat dari dampak ekonomi yang lebih luas. Pemerintah harus hadir dengan langkah yang meyakinkan, bukan sekadar menenangkan dengan retorika, tetapi menyelamatkan daya beli rakyat dari hantaman badai ekonomi ini,” tegasnya.

Di tengah tekanan yang terus membesar, sorotan kini tertuju pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam meredam gejolak pasar. Pasalnya, tanpa respons yang cepat dan terukur, pelemahan rupiah dan anjloknya pasar saham berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. 

(LS/Nusantaraterkini.co)