Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Indonesia Ketergantungan Impor Susu Bubuk, Lantas Darimana Pasokan Susu untuk Program Susu Gratis?

Editor :  Annisa
Reporter :  Shakira
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi. (Foto: Jawapos.com))

Nusantaraterkini.co - Program unggulan susu gratis pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming ditujukan untuk peningkatan gizi bagi anak-anak sekolah hingga pesantren.

Namun, untuk merealisasikan program ini, dibutuhkan pasokan susu yang cukup banyak. Di Indonesia sendiri, susu masih terbilang cukup terbatas, lantaran Indonesia masih bergantung pada impor susu dengan volume dan nilai yang cukup besar.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menilai program susu gratis ini memberikan dampak yang sangat baik. Namun, ia menjelaskan program ini masih baru rencana, sehingga dia menekankan kata 'kalau' apabila program itu harus dijalankan.

Baca Juga : Program Susu Gratis, TKN Prabowo-Gibran Gandeng Pengusaha Kecil dan Lokal

"Kalau ya, kita bicara kalau program ini memang harus dijalankan, karena ini 'kalau' lagi Maret nanti sudah ditentukan, pakai kalau nih. Jadi kalau ini memang harus dikerjakan, ini impactnya akan sangat baik," kata Arief saat ditemui di Hotel The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis, (29/2/2024), dilansir dari CNBCIndonesia.com.

Arief memaparkan dampak baik yang ia maksud, seperti banyak kegiatan masyarakat yang dapat dilakukan, mulai dari hulu sampai hilir. Misalnya, saat ini Indonesia masih sangat ketergantungan impor susu bubuk atau powder milk. Padahal Indonesia dapat memproduksi susu sendiri, bila impor sapi perah dilakukan dan diberikan kepada petani.

"Jadi kalau itu bisa dibawa masuk sapi indukan, sapi perah, kemudian diberikan kepada petani-petani. Misalnya, satu petani 3-5 sapi perah, kemudian nanti dikumpulkan susunya. Kemudian punya nutrien yang bagus, standarnya ini nanti dihubungkan dengan industri susu," jelasnya.

Baca Juga : Kritik DPR Dinilai Lemah, Firman Soebagyo: Pengawasan Harus Demi Kepentingan Rakyat

Lebih lanjut, Arief mengaku sebelumnya pernah menjalankan program pemberian susu gratis melalui KJP plus untuk masyarakat Jakarta. Kala itu, katanya, program tersebut menjadi sulit, lantaran diputuskannya untuk memilih susu yang mikronutrien yakni di fresh milk atau susu segar.

Adapun pilihan jenis susu lainnya, yakni pasteurized milk dan susu UHT. Arief menilai hal tersebut mungkin itu bisa dilakukan tanpa mengurangi kandungan susunya, tapi safe life nya lebih panjang, karena menggunakan teknologi tetra pack.

"Jadi itu tinggal pilihan-pilihan. Kalau anak-anak, pengalaman saya di Jakarta, kalau dikasih susu yang plain itu kurang suka, karena mungkin pertama-pertama (mereka sudah) dikasih rasa coklat atau stroberi, tanpa mengurangi nilai gizinya ya," ujarnya.

Baca Juga : Pujakesuma Bersatu Komitmen Dukung Program Prabowo-Gibran untuk Rakyat

Meski demikian, Arief mengatakan program ini masih perlu dipelajari lebih lanjut dan bersifat memaksa kepada murid-murid yang menerima makan siang dan susu gratis nantinya.

"Itu harus dipelajari betul, dan harus bersifat memaksa, harus sampai dimakan di tempat, nggak bisa di-takeaway. Jadi harus kita pastikan dimakan di tempat," kata Arief.

Menurutnya, ketergantungan Indonesia akan mengimpor susu bubuk dapat dikurangi dengan perencanaan membuka keran impor sapi perah.

"Masa mau impor powder milk terus ke depannya. Kita seharusnya, kalau kita bisa kerjakannya di Indonesia itu sangat baik," pungkasnya.

(Ann/Nusantaraterkini.co)
Sumber: CNBCIndonesia.com