Nusantaraterkini.co, LANZHOU - Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan China mengungkap bahwa efek domino dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin sering terjadi akibat pemanasan iklim akan memicu degradasi yang tidak dapat dipulihkan pada ekosistem tanah beku abadi (permafrost) di zona permafrost lintang tinggi utara.
Hal ini disampaikan Northwest Institute of Eco-Environment and Resources (NIEER) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Baca Juga : BPBD Sumsel Padamkan 3 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Muratara
Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari NIEER bekerja sama dengan Northeast Forestry University serta sejumlah universitas dan lembaga penelitian lainnya, dengan temuan-temuan studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science, ungkap institut tersebut.
Baca Juga : PALI dan Muara Enim Jadi Daerah Paling Banyak Dilanda Karhutla di Sumsel hingga Mei 2026
"Dalam konteks pemanasan global, zona permafrost lintang tinggi sedang menghadapi gangguan karhutla yang belum pernah terjadi sebelumnya, memicu peningkatan anomali emisi karbon tahunan di tingkat regional, di tengah tren penurunan emisi kebakaran hutan global," tutur Li Xiaoying, seorang peneliti di NIEER.
Tim studi gabungan tersebut mengusulkan konsep "Zona Kritis Tanah Beku Abadi" (Permafrost Critical Zone/PCZ), sebuah gagasan baru yang memperluas kerangka kerja Zona Kritis klasik ke dalam ekosistem kriosfer yang rentan, serta didasarkan pada perspektif sistem Bumi yang komprehensif untuk mengevaluasi dampak domino karhutla terhadap PCZ lintang tinggi.
Baca Juga : Penguin Kaisar di Ambang Kepunahan: Saat Es Antartika Tak Lagi Jadi Rumah
Studi tersebut mengindikasikan bahwa pembakaran lapisan organik dan penurunan albedo permukaan yang disebabkan oleh karhutla di wilayah permafrost lintang tinggi mendestabilisasi PCZ, sehingga meningkatkan suhu permukaan tanah hingga 7 derajat Celsius dan memperdalam lapisan aktif hingga enam kali lipat.
Baca Juga : Es Laut Arktik Capai Rekor Terendah 2 Tahun Berturut-turut, Ancaman Krisis Iklim Nyata
Guncangan termal yang parah ini secara fundamental mengubah jalur hidrologi, mempercepat pencairan es tanah (ground ice), mengubah penyimpanan air di atas lapisan permafrost (supra-permafrost), dan memperkuat limpasan permukaan, tunjuk studi tersebut.
Di saat yang sama, karhutla secara mendadak mengurangi keanekaragaman mikroba dan merestrukturisasi komunitas biologis yang beradaptasi dengan suhu dingin, sehingga memicu trajektori suksesi vegetasi pascakebakaran yang beragam.
"Studi kami menemukan bahwa, meskipun pemulihan ekologis dan hidrotermal sangat penting untuk mengembalikan fluks karbon dan air, efek beruntun dari karhutla yang berulang di bawah kondisi iklim yang menghangat juga mengancam degradasi yang tidak dapat dipulihkan terhadap lingkungan-lingkungan ini," kata Li.
"Studi baru ini lebih lanjut menyoroti bahwa integrasi dinamika PCZ ke dalam model sistem Bumi memiliki nilai ilmiah dalam memprediksi titik kritis iklim (climate tipping points), dan risiko-risiko ini harus dipertimbangkan saat merumuskan tujuan pembangunan berkelanjutan jangka panjang, ujar Li.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
