Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Komisi VI DPR Soroti Pemadaman Listrik PLN di Aceh Selatan

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Rivqy Abdul Halim (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR Rivqy Abdul Halim menyoroti kualitas layanan Perusahaan Listrik Negara (PLN), salah satunya terkait pemadaman listrik yang masih banyak dikeluhkan masyarakat.

Meski begitu Rivqy mengapresiasi terkait peningkatan pendapatan penjualan. Namun, kata dia, data yang disampaikan masih dalam satuan TWh (Terawatt hour), bukan dalam satuan rupiah.

Baca Juga : Komisi X DPR Minta PPDB dan Penerimaan Mahasiswa Baru Lebih Transparan dan Berkeadilan

“Terus memang presentasinya sangat menarik, tapi yang disampaikan hanya pendapatan penjualan yang cantik-cantik saja,” ungkap legislator asal daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur IV itu, Rabu (4/12/2024).

Baca Juga : Revisi UU Polri, DPR Dukung Perpanjangan Masa Pensiun hingga 60 Tahun

Sementara, lanjut Rivqy, laba bersih PLN pada kuartal tiga 2024 mengalami penurunan 3,3 persen. Beban usaha juga naik 14,69 persen. Dia juga menyoroti terkait evaluasi dan penyesuaian soal kebijakan tarif PLN untuk memastikan kepatuhan dan optimasi pendapatan.

Proyek infrastruktur listrik juga menjadi sorotan. Menurut Gus Rivqy, masih ada proyek infrastruktur listrik yang mengalami keterlambatan. Salah satunya proyek pembangunan transmisi 500 KV di Sumatera. Proyek itu belum rampung dan sangat berlarut-larut.

Baca Juga : PLN Disorot soal Krisis Listrik: Tak Bangun Pembangkit Baru Selama 5 Tahun

Selanjutnya, Rivqy menyoroti kualitas layanan PLN, khususnya terkait pemadaman listrik di Aceh Selatan. Menurutnya, banyak masyarakat yang menyampaikan komplain dan keluhan soal pemadaman listrik. Di antaranya, dari masyarakat Kecamatan Trumon dan Kecamatan Bakongan.

Baca Juga : PLN UP3 Padangsidimpuan MoU Pasang Baru dan Perubahan Daya dengan Total Kapasitas 2,77 MVA

Padahal, di wilayah tersebut terdapat sumber gas, misalnya Arun Regas. Selain itu, di daerah tersebut juga terdapat banyak pembangkit listrik, seperti di Arun, Belawan, Paya Pasi, dan Lhokseumawe.

“Bagaimana suplai di Aceh sendiri kok mati nyala begitu. Padahal ada sumber gas dan banyak pembangkit listrik di sana,” beber alumnus fakultas ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.

Baca Juga : Mesin Operasional Rusak Akibat Pemadaman Listrik, Layanan Air Tirtanadi Terganggu Dua Hari ​

Terakhir, Rivqy mengkritisi pembangkit listrik combine cycle, yaitu pembangkit listrik yang menggabungkan tenaga gas dan uap. Berapa persen memanfaatkan bahan bakar gas dan berapa persen memanfaatkan marine fuel oil (MFO)?

Baca Juga : Pemadaman Listrik Bergilir di Sumut, Bobby Nasution Tegur PLN dan Minta Kompensasi untuk Warga

“Jangan - jangan penggunaan gas ini sebagai tameng saja biar kelihatan go green , tapi yang paling banyak dipakai ternyata MFO-nya,” tandas politikus PKB ini.

(cw1/Nusantaraterkini.co)