Nusantaraterkini.co, BATUBARA – Di sepanjang Gang Setia, Dusun 4, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, pemandangan hamparan merah di pinggir jalan menjadi pemandangan yang lazim ditemui pada hari ini. Warna merah tersebut berasal dari kecepe, sejenis udang kecil yang menjadi komoditas utama para nelayan setempat, Kamis (14/5/2026).
Seorang nelayan setempat, Pi'i yang telah melakoni profesi ini selama lima tahun, menceritakan dinamika kesehariannya mencari kecepe.
Baca Juga : Dilema Pasang Laut di Tanjung Tiram: Rumah Warga Terendam, Anak-Anak Malah Asyik Bermain
Meskipun waktu keberangkatan ke laut tergolong fleksibel bisa pagi atau siang hari, ia tetap harus berhadapan dengan tantangan alam. Cuaca berangin dan ombak besar di laut menjadi hambatan utama saat proses penangkapan.
Baca Juga : Pasar Sore Tanjung Tiram, Tempat Berburu Ikan Segar Langsung dari Nelayan
Hasil tangkapan kecepe di kawasan Tanjung Tiram ini tergolong sangat produktif. Dalam satu hari, seorang nelayan rata-rata mampu membawa pulang 100 hingga 200 kilogram kecepe.
"Paling banyak bisa sampai 400 kilogram dalam satu hari kcepe ini juga dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram. Namun, pendapatan kami nelayan sangat bergantung pada proses pengeringan," ujarnya.
Baca Juga : Ngopi Santai di Dermaga Tanjung Tiram: Tempat Favorit Baru Warga Tuk Hilangkan Lelah
"Karena kecepe harus dijemur supaya laku dijual, musim hujan menjadi saingan berat juga buat kami warga Gang Setia. Jadi kalau hujan turun, kecepe tidak dapat dikeringkan dan beralih fungsi hanya untuk konsumsi pribadi, yang berarti tidak ada pemasukan untuk kami," ujarnya
Baca Juga : Polairud Tanjung Tiram Evakuasi 64 Orang Penumpang Kapal Mati Mesin di Pulau Salah Namo, Seluruhnya Selamat
Meskipun menghadapi risiko cuaca, semangat para nelayan di Dusun 4 Tanjung Tiram ini tetap membara demi mengolah potensi laut Batu Bara menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
(cw5/nusantaraterkini.co)
