Nusantaraterkini.co, MEDAN – Pengendara di Kota Medan masih belum menyadari pentingnya peraturan lalulintas saat berkendara.
Banyak kasus kecelakaan lalulintas yang terjadi diduga karena kurangnya kepekaan terhadap keselamatan diri maupun pengendara lainnya.
Baca Juga : Massa Aksi di Sudirman Ajak Pengendara Nyalakan Klakson sebagai Bentuk Dukungan
Seperti pantauan Nusantaraterkini.co, di kawasan persimpangan Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, kian memprihatinkan dan menyerupai "hukum rimba".
Baca Juga : Tak Tahu Malu, Pengendara Masih Gunakan Trotoar untuk Jalur Alternatif di Stasiun Medan
Minimnya kedisiplinan pengendara tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga mengancam keselamatan nyawa dan ketertiban umum.
Di lokasi tersebut, terlihat jelas puluhan kendaraan roda dua maupun roda empat secara konsisten berhenti jauh melampaui garis pemberhentian, sehingga menutupi akses zebra cross.
Baca Juga : Antisipasi Kemacetan saat Listrik Padam, Polantas Gatur Lalin di Kota Medan
Selain pelanggaran marka, aksi nekat "curi start" atau memacu kendaraan sebelum lampu hijau menyala menjadi pemandangan rutin yang memicu konflik antar pengguna jalan.
Baca Juga : Begini Wajah Pengendara di Kota Medan, Trotoar jadi Jalur Alternatif
Keresahan mendalam dirasakan oleh warga dan pedagang yang beraktivitas di sekitar persimpangan tersebut.
Ibu Ita, seorang warga sekaligus pedagang lokal, mengeluhkan kebisingan luar biasa akibat suara klakson pengendara yang tidak sabar.
Baca Juga : Dispora Sumut Rancang Sport Center Jadi Kawasan Kota Baru Berbasis Bisnis
"Bising kali, ebo (heboh) gitu. Kita kan tahu lampu merah, seharusnya pahamlah ini lampu merah. Tapi dia kayak gitu, angkot-angkot ini yang kasihan kadang-kadang," ujar Ibu Ita saat diwawancarai di lokasi, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga : Polda Sumsel Sita 11.443 Ekstasi dan 1,3 Kg Sabu Siap Edar di Palembang Lewat Ekspedisi Resmi
Ia juga menceritakan insiden mengerikan yang terjadi akibat aksi saling potong jalur di lampu merah tersebut. "Tadi siang kejadian di sini, main golok tadi. Dia dari sana mau nyeberang, datangnya dari sana, dari Kampung Baru. Jadi emosi, diambilnya kayu, kami nengok ajalah. Itu gara-gara di lampu merah juga, potong jalan, perasaan dia mau cepat," tambah Ibu Ita.
Hal senada disampaikan oleh Pak Efendi, warga lain yang sering melintas di kawasan tersebut. Ia menyoroti perilaku egois pengendara yang memaksa pejalan kaki untuk selalu mengalah.
"Itu memang karakter orang Medan kayaknya. Sudah tahu lampu merah, masih tetap saja coba kalau ada kosong diterobos," kata Pak Efendi.
Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan ketiadaan petugas di lapangan pada jam-jam rawan. "Pejalan kaki kayaknya mengalah saja. Harusnya kan polisi yang bertanggung jawab, tapi sering kosong. Kalau petugas tidak ada, ya makin berani menerobos," tegasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
