Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan kuat dalam beberapa waktu ke depan. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, jika konflik geopolitik terus berlanjut dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026.
Untuk periode perdagangan 8-12 Juni 2026, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah setelah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga : IHSG Awali Perdagangan dengan Koreksi ke 5.701
Ketegangan di kawasan tersebut menjadi perhatian pasar global karena berkaitan dengan keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Menurut Ibrahim, peluang terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan masih relatif kecil. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dan memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
Di sisi lain, harga emas dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Secara teknikal, emas memiliki area support di level USD4.264 per troy ons dan support lanjutan di USD4.153 per troy ons. Sementara untuk area resistance berada di level USD4.384 per troy ons dan berpotensi naik hingga USD4.560 per troy ons apabila tren penguatan berlanjut.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Pasar Dibayangi Konflik Iran-AS
Meski harga emas global berpotensi terkoreksi, pelemahan rupiah diperkirakan akan menahan penurunan harga emas di pasar domestik. Hal ini terjadi karena harga emas dalam negeri sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Jika rupiah kembali terdepresiasi, harga logam mulia diproyeksikan bertahan di kisaran Rp2.630.000 per gram. Sebaliknya, apabila harga emas dunia kembali menguat, harga emas domestik berpotensi bergerak menuju level Rp2.768.000 hingga Rp2.830.000 per gram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga emas nasional dalam jangka pendek, di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang masih tinggi.
Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar AS
(Dra/nusantaraterkini.co)
