Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Pasar Dibayangi Konflik Iran-AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (25/3/2026), bertepatan dengan hari pertama aktivitas pasar setelah libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026.

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.18 WIB, rupiah tercatat turun 11 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp16.908 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi global, khususnya perkembangan ekonomi AS dan memanasnya konflik di Timur Tengah.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan pelaku pasar masih fokus memantau arah kebijakan moneter AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 4,36 persen. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) juga menguat ke level 99,4.

Baca Juga : Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Menguat Tipis terhadap Dolar AS di Tengah Penguatan Indeks DXY

Menurutnya, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut memperbesar tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. Konflik di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Iran melanjutkan serangan terhadap pangkalan militer AS dan menegaskan belum ada proses negosiasi dengan Washington.

Meski Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan jeda pertempuran selama lima hari, kondisi di lapangan masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi tersebut membuat pasar global cenderung bergerak hati-hati.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia masih melanjutkan penguatan walau dengan laju lebih lambat. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan memperkecil peluang pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve tahun ini.

Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS

Bank sentral AS sebelumnya kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen pada rapat Maret 2026. The Fed menilai ekonomi AS masih cukup kuat dengan tingkat inflasi yang tetap tinggi.

Dalam proyeksi terbarunya, Federal Reserve hanya memberi sinyal satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dan satu kali pelonggaran tambahan pada 2027.

Meski demikian, pasar sempat memperoleh sentimen positif setelah muncul laporan bahwa AS mengajukan proposal berisi 15 poin kesepakatan kepada Iran guna meredakan konflik di jalur energi Selat Hormuz.

Baca Juga : IHSG Tertekan Tajam, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut hingga Sentuh Level 5.100

Namun, langkah diplomasi tersebut tetap dibarengi peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah setelah Presiden Trump memerintahkan pengiriman sekitar 2.000 personel tambahan ke kawasan strategis tersebut.

Sementara dari sektor ekonomi riil, aktivitas manufaktur AS menunjukkan penguatan. Data S&P Global mencatat PMI Manufaktur AS naik ke level 52,4 pada Maret 2026, menandakan peningkatan produksi serta bertambahnya permintaan ekspor baru.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar AS