Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.905 per dolar AS sekitar pukul 11.54 WIB sebelum perlahan bergerak menguat.
Pada pemantauan pukul 12.17 WIB, mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.870 per dolar AS atau menguat sekitar 65,90 poin setara 0,39 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah tersebut turut menjadi perhatian pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi nilai tukar saat ini masih dalam batas yang telah diperhitungkan pemerintah dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga : Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Menguat Tipis terhadap Dolar AS di Tengah Penguatan Indeks DXY
Menurutnya, pemerintah sejak awal telah memasukkan berbagai skenario ekonomi global, termasuk potensi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia, ke dalam asumsi dasar APBN 2026.
Purbaya menyebut kondisi tersebut belum memerlukan perhitungan ulang terhadap APBN. Ia menilai pasar keuangan domestik masih relatif stabil, terutama dari sisi imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang dinilai tetap terkendali.
Selain itu, langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas terkait disebut mampu meredam tekanan lebih besar di pasar keuangan nasional.
Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS
“Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya. Walaupun rupiah melemah, pertumbuhan yield bond-nya turun,” ujar Purbaya.
Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dipengaruhi dinamika ekonomi global, penguatan dolar AS, hingga sentimen suku bunga internasional yang masih tinggi.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : IHSG Tertekan Tajam, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut hingga Sentuh Level 5.100
