Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Dolar AS Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin (5/1/2026), rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam tiga setengah pekan terhadap euro, serta posisi terkuat dalam dua pekan terhadap yen Jepang. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.14 WIB di pasar spot, rupiah tercatat melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp 16.732 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,17 persen ke posisi 98,59.

Baca Juga : Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Menguat Tipis terhadap Dolar AS di Tengah Penguatan Indeks DXY

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026), rupiah juga ditutup melemah 38 poin di level Rp 16.725 per dolar AS, menandakan tekanan yang masih berlanjut sejak akhir pekan lalu.

Mengutip Reuters, dolar AS membuka pekan perdagangan penuh pertama di awal 2026 dengan tren penguatan. Mata uang tersebut mencatat level tertinggi dalam tiga setengah pekan terhadap euro, serta mendekati posisi puncak dua pekan terhadap yen Jepang.

Penguatan dolar AS terjadi meskipun Amerika Serikat baru saja melakukan operasi militer di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu. Namun, sentimen geopolitik tersebut dinilai tidak menjadi faktor utama di pasar valuta asing.

Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS

Pelaku pasar global saat ini lebih memusatkan perhatian pada prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama terkait sinyal suku bunga yang akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS ke depan.

Pada perdagangan Senin, dolar AS tercatat naik 0,1 persen ke level US$ 1,1704 per euro, setelah sempat menyentuh US$ 1,1700, yang merupakan level terkuat sejak 11 Desember 2025. Sementara terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,2 persen ke level 157,08 yen, mendekati posisi tertinggi sejak 22 Desember 2025 di level 157,255 yen.

“Pasar valuta asing saat ini cenderung mengesampingkan risiko geopolitik dari Venezuela dan lebih fokus pada sinyal yang akan muncul dari data ekonomi AS terkait arah kebijakan The Fed,” ujar analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga : Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.881 per Dolar AS, Tertekan Pergerakan Mata Uang Asia

(Dra/nusantaraterkini.co).