Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan dengan performa positif pada Selasa (9/6/2026). Mata uang Garuda berhasil mencatat penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski tekanan dari penguatan dolar global masih membayangi pasar keuangan.
Mengacu pada data pasar hingga pukul 09.00 WIB, rupiah terapresiasi 0,06 persen dan bergerak di level Rp17.905,9 per dolar AS. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih mampu menjaga stabilitas di tengah meningkatnya permintaan terhadap mata uang AS.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia justru mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen ke level 99,987. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih mendukung dolar AS.
Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS
Di kawasan Asia, rupiah menunjukkan performa yang beragam. Mata uang Indonesia berhasil mengungguli baht Thailand yang melemah 0,06 persen ke posisi Rp543,08.
Namun, tekanan masih terlihat saat rupiah dibandingkan dengan sejumlah mata uang utama regional lainnya. Terhadap yen Jepang, rupiah melemah 0,12 persen ke level Rp111,63 per yen. Pelemahan juga terjadi terhadap won Korea Selatan sebesar 0,10 persen menjadi Rp11,75 per won.
Sementara itu, terhadap yuan China, rupiah terkoreksi 0,08 persen ke posisi Rp2.642,51. Mata uang domestik juga tercatat melemah 0,06 persen terhadap ringgit Malaysia yang berada di level Rp4.405,11.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Rupiah turut mengalami koreksi tipis terhadap dolar Singapura sebesar 0,03 persen ke posisi Rp13.903,28. Adapun pergerakan terhadap euro relatif stabil tanpa perubahan signifikan, dengan nilai tukar bertahan di level Rp20.772.
Pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia, pergerakan dolar AS, serta perkembangan ekonomi dan geopolitik internasional yang berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar di pasar keuangan.
(Dra/nusantaraterkini.co)
