nusantaraterkini.co, MEDAN - Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Great Institute mengatakan Joko Widodo (Jokowi) merupakan salah satu presiden serakah (keluarga serakah).
Hal ini dikatakannya saat menjadi narasumber di channel YouTube Forum Keadilan TV beberapa waktu lalu.
"Jokowi pingin anaknya jadi Wapres terus anaknya (menantu) jadi Gubernur dan anaknya yang kecil Kaesang mau diusung jadi Gubernur DKI atau Jawa Tengah (Jateng). Nah, artinya ini kan keluarga serakah. Belum ada Presiden RI yang seperti dia. Yang saat berkuasa ingin keluarganya juga jadi penguasa," kata Syahganda dikiti channel YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (22/7/2025).
Baca Juga : Syahganda Nainggolan: Jumhur Hidayat di Kabinet Prabowo Setara 10 Menteri Peninggalan Jokowi
Syahganda membandingkan, di era Presiden Soekarno, dirinya tidak pernah mendorong anaknya untuk menjadi penguasa, sama dengan Presiden Soeharto, 32 tahun menjabat, saat di 30 tahun dia baru menempatkan anaknya Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut menjadi Menteri Sosial (Mensos).
"Presiden SBY, tidak pernah mendorong anaknya ketika dia berkuasa, anaknya kan cuma jadi orang partai aja, orang DPR. Kemudian Megawati dia juga enggak pernah mendorong anaknya untuk jadi menteri, sekarang di DPR aja. Kalau ini kan enggak support mau ngerampok kekuasaan dengan kejahatan kondisi nasional. Bukan seperti Jokowi yang rakus atas kekuasaan dengan mendorong semua anaknya," kata Syahganda.
PSI Ganti Logo
Baca Juga : Tokoh Lintas Sumatera Minta Presiden Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional
Syahganda juga menanggapi pernyataan Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad terkait candaan perubahan logo Gekraf mejadi kancil.
Dalam pernyataan itu, Dasco disebut menyindir partai PSI yang saat itu juga mengganti logo mereka dari bunga menjadi gajah kepala merah.
Syahganda mengatakan, jika ditafsirkan dari video pernyataan Dasco, bahwa goyanan dia (Dasco) kurang mengapresiasi pergantian logo PSI dari bunga mawar ke gajah kepala merah.
Baca Juga : PSI Disarankan Perjelas Posisi Jokowi di Struktur Partai
"Logo gajah itu kan milik ITB, diambil PSI, ini kan bagian dari serakah nomik, tiba-tiba kok bisa lambangnya gajah. Diambil PSI," katanya.
Ketika ditanyai terkait akan adanya friksi antara PSI dan Gerindra, Prabowo dan bayang-bayang Jokowi, Syahganda menjelaskan, politik itu tidak harus konflik, artinya, peristiwa yang terjadi di Solo, saat Presiden Prabowo mengunjungi PSI dan membesarkan hati teman-teman di PSI, sebenarnya itu terlihat dua-dua sama-sama eksis. Meski terlihat paradoks, namun dua sisi itu bisa menjadi satu kesatuan.
"Jadi orang bisa menafsirkan sebenarnya ini enggak sepenuh hati dari pak presiden di dalam peristiwa yang dilihat orang," bebernya.
"Makanya, bila dibandingkan dengan PSI dulu, PSI sekarang ini namanya kebesaran baju. Dulu kita tahu PSI di zaman doktor Syahrir peduli idealisme. Dia juga di penjara berkali-kali diasingkan ke pulau bersama Bung Hatta dan kemudian baru dikeluarkan menjelang kemerdekaan dan kemudian meninggal di era Bung Karno," sambungnya.
Masih kata Syahganda, di era orang tua Prabowo yang merupakan pendiri PSI dengan yang lainnya sempat dikejar-kejar dan lari ke Malaysia. Orang-orang ini, kata Syahganda, memang petarung dalam hidup untuk bangsa, mengorbankan seluruh hidupnya.
"Orang-orang ini kan ningrat, dalam artian orang-orang yang bisa sekolah ke Belanda, seperti Syahrir dan Sumitro inikan orang-orang yang sebenarnya kalau dia mau hidup enak kan dia bisa. Tapi mereka tidak seperti Kaesang yang serakahnomik, yang menjadi ketua partai dalam satu hari," pungkasnya.
Terjadi Perpecahan Jokowi - Prabowo
Syahganda juga menjelaskan kalau perpecahan antara Jokowi dan Prabowo sudah mulai terlihat dengan tidak dilibatkannya Wapres Gibran dalam beberapa kegiatan kenegaraan.
"Bisa kita lihat dalam beberapa kegiatan kenegaraan, Prabowo mengutus AHY untuk mewakilinya. Arti, kualitas Gibran terlihat tidak memadai. Dari sini sudah bisa kita nilai," kata Syahganda.
Mereka ini (Jokowi) kata Syahganda, merasa bahwa mereka yang mengantarkan Prabowo kepada jabatannya sebagai presiden sekarang ini. Dengan segala kekuatan yang katanya uang dan politik, memberikan Prabowo dan Gibran kemenangan.
"Jadi mereka itu berharap Prabowo tidak bisa lagi menjalani roda pemerintahan dan terguling, jadi Gibran naik menjadi presiden. Tapi sebenarnya tidak segampang itu, revolusi orang-orang garis keras banyak dibelakang kita. Bangsa ini bukan bangsa yang sembarangan. Mau jadi apa negeri ini jika dimpimpin Gibran," tegasnya.
(Dra/nusantaraterkini.co).
