Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) mengintensifkan patroli mitigasi setelah data Sipongi mendeteksi lonjakan 166 titik panas (hotspot) harian yang tersebar di 14 wilayah kabupaten/kota pada, Sabtu (31/5/2026).
Kondisi cuaca yang mulai memasuki musim kemarau, serta minim curah hujan memicu kenaikan drastis jumlah titik panas ini. Di mana 163 titik berada di lahan mineral dan 3 titik lainnya berada di lahan gambut.
Baca Juga : Tanah Mineral Dominasi Kebakaran Lahan di Sumsel Awal Tahun 2026
"Ini menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga : Muba Daerah Ketiga yang Naikkan Status Siaga Karhutla Jelang Musim Kemarau
Sudirman menyebut jika wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi penyumbang terbanyak, dipimpin Kabupaten Musi Rawas (Mura) dengan 39 titik dan Musi Rawas Utara (Muratara) sebanyak 30 titik.
Berikutnya, Kabupaten Muara Enim mencatat 16 titik, Musi Banyuasin (Muba) 15 titik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 14 titik, dan Lahat 12 titik.
Baca Juga : BPBD Sumsel Padamkan 3 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Muratara
"3 hotspot yang terpantau di lahan gambut masing-masing berada di Banyuasin, Muba, dan Muratara," katanya.
Adapun wilayah Sumsel lainnya mencatatkan angka di bawah 10 titik panas, sementara hanya ada tiga daerah yang bersih dari deteksi hotspot sama sekali, yakni Palembang, Prabumulih, dan Pagar Alam.
Ia menjelaskan akumulasi angka sepanjang bulan kelima tahun ini memperlihatkan grafik yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya seiring meningkatnya risiko karhutla di lapangan.
"Secara keseluruhan, jumlah hotspot pada Mei ini ikut melonjak dengan 708 titik. Angkanya lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya," jelasnya.
Untuk menekan potensi munculnya titik api, BPBD Sumsel kini terus membangun koordinasi erat dengan pemerintah daerah guna memetakan wilayah-wilayah kritis yang perlu diantisipasi.
Selain penguatan patroli fisik oleh petugas, keterlibatan aktif dari warga lokal untuk tidak membuka lahan pertanian dengan cara dibakar menjadi poin penting yang terus disosialisasikan.
"Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar tidak terjadi karhutla. Jika menemukan titik api atau asap, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat," ucap dia.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
