Nusantaraterkini.co, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkap adanya percakapan bernada keras dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Rabu (4/6/2026) waktu setempat, Trump mengakui sempat melontarkan kritik tajam kepada Netanyahu melalui sambungan telepon. Ia bahkan membenarkan laporan yang menyebut dirinya menyebut pemimpin Israel tersebut sebagai sosok yang "gila".
Menurut Trump, kekesalannya dipicu oleh langkah Israel yang terus melancarkan serangan ke Lebanon di tengah upaya Amerika Serikat meredakan ketegangan regional dan membuka jalur diplomasi dengan Iran.
Baca Juga : Trump Disorot Usai Unggah Foto Bergaya Yesus, Enggan Minta Maaf ke Paus Leo XIV
Iran selama ini dikenal sebagai sekutu utama kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Hubungan erat antara kedua pihak membuat konflik di kawasan tersebut menjadi perhatian serius berbagai negara.
"Saya memang mengatakan itu," ujar Trump saat diminta mengonfirmasi laporan mengenai pernyataannya terhadap Netanyahu.
Meski mengakui adanya ketegangan dalam percakapan tersebut, Trump menegaskan dirinya tidak benar-benar marah. Ia hanya merasa terganggu dengan kebijakan Israel yang dinilai terus memperpanjang konflik dengan Lebanon.
Baca Juga : Trump dan Netanyahu Bertemu di Gedung Putih, Negosiasi AS-Iran Dipastikan Tetap Berjalan
"Saya tidak akan menyebutnya marah. Saya hanya sedikit kesal karena mereka terus berselisih dengan Lebanon," kata Trump.
Trump juga menilai langkah militer Israel berpotensi memperburuk citra negara tersebut di mata dunia internasional. Namun demikian, ia memastikan hubungan pribadinya dengan Netanyahu tetap berjalan baik meski sempat terjadi perdebatan sengit.
Sebelumnya, media Axios melaporkan bahwa percakapan antara kedua pemimpin berlangsung dalam suasana tegang dan diwarnai sejumlah ucapan keras. Dalam laporan tersebut, Trump disebut sempat mengatakan bahwa tanpa dukungannya, Netanyahu kemungkinan menghadapi situasi politik yang jauh lebih sulit di dalam negeri.
Baca Juga : Swiss Siap Jadi Tuan Rumah Penandatanganan Damai AS-Iran, Jenewa Masuk Radar Diplomasi Dunia
Pernyataan Trump kembali menjadi sorotan karena menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv terkait penanganan konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
(Dra/nusantaraterkini.co)
