Nusantaraterkini.co, DELISERDANG-Sejumlah warga di Pasar 9, Desa Sidodadi, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang mulai mengeluhkan kenaikan harga bawang dan tomat. Pasalnya, sejak sepekan terakhir harga bawang terus naik hingga mencapai Rp39.000 per kg dari sebelumnya Rp 32.000 per kg, sementara tomat naik dari sebelumnya Rp 11.000 per kg menjadi Rp 22.000 per kg.
"Biasanya belanja bumbu dapur lengkap masih ada kembalian, sekarang uang seratus ribu Rupiah rasanya cepat sekali habis. Untuk bawang merah dan tomat saja harganya sudah bikin geleng kepala," ujar Yus, seorang ibu rumah tangga, yang ditemui Nusantaraterkini.co, saat berbelanja di Pasar 9, Desa Sidodadi, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga : Harga Bawang Anjlok, Petani di Tongging Hanya Cukup untuk Biaya Operasional
Dikatakannya, kenaikan harga ini membuatnya harus pintar-pintar mengalokasikan uang untuk belanja. Salah satunya, kata dia, jika biasanya masak bumbunya banyak, sekarang harus dikurangi. "Yang penting ada rasa sedikit," ujar Yus.
Baca Juga : Sumut Inflasi 4,35 Persen pada Mei 2026: Emas Perhiasan dan Tomat Jadi Pemicu Utama
Yus menambahkan bahwa jika harga tidak segera turun, ia khawatir kebutuhan gizi keluarga lainnya akan ikut terabaikan. Karena, katanya, anggaran rumah tangga tersedot habis hanya untuk membeli bumbu dasar.
"Harapannya pemerintah segera turun tangan. Misalnya mengadakan operasi pasar, supaya harga tidak naik terus, atau bahkan bisa turun," harapnya.
Baca Juga : Harga Tomat Tembus Rp18.000 per Kilogram, Pembeli dan Penjual Mengeluh
Kenaikan harga tomat dan bawang juga dikeluhkan pedagang sayuran. Endang misalnya, mengaku penjualan terus menurun akibat pembeli mengurangi kuantitas akibat harga yang tinggi.
Baca Juga : Akses Terhambat, Warga Keluhkan Kondisi Jalan Komplek Deli Asri yang Rusak Parah
"Kondisinya sudah tidak normal lagi. Harga modal dari agen naik tinggi sekali, sementara kita di tingkat pedagang kecil tidak mungkin menaikkan harga terlalu drastis ke pelanggan. Akibatnya, keuntungan kami yang tergerus habis. Kami juga takut stok barang banyak-banyak, kalau tidak laku dalam dua hari, tomat bisa busuk dan kami rugi total," ungkap Endang.
Menurutnya, daya beli masyarakat di wilayah Sidodadi menurun drastis. Indikasinya, kata dia, jika biasanya warga membeli dalam hitungan kilogram, kini mayoritas hanya berani membeli dalam bungkusan kecil atau eceran seadanya.
Baca Juga : Korban Keganasan 45 Prajurit TNI di Deli Serdang Hingga Kini Menanti Keadilan
"Berjualan di tengah harga yang melambung tinggi ibarat berjalan di atas tali tipis, salah perhitungan sedikit saja, modal usaha bisa amblas," ungkapnya.
(Cw5/Nusantaraterkini.co)
