Nusantaraterkini.co - Pascapenyerangan 45 prajurit dari Batalyon Artileri Medan (Armed) 2/105 Kilap Sumagan pada Jumat (9/11/2024) malam, hingga para korban yang merupakan warga Deliserdang masih menanti keadilan yang jelas.
Dilansir dari kompas.com, Indra Winoto Meilala salah satunya.
Pria berusia 35 tahun ini masih dalam masa penyembuhan karena luka berat di kepala.
Ketika dijumpai di rumahnya di Dusun III Desa Selamat, Indra menceritakan peristiwa yang menimpanya pada Jumat malam.
Siang sebelum kejadian, Indra baru saja pulang ke rumahnya selepas mengajar sebagai guru olahraga di SD Islam Terpadu (IT) Ummu Hafidzah, Kecamatan Sibiru-biru.
"Saya duduk-duduk lah main handphone di rumah. Sekitar pukul 22.00 WIB, ada ribut-ribut. Warga yang lewat teriak geng motor atau begal gitu," kata Indra saat diwawancarai di rumahnya, Rabu (20/11/2024).
Baca Juga : Sentil Alumni LPDP Lupa Pulang', Cucun Restui TNI Turun Tangan Tanamkan Nasionalisme
Ayah dari tiga anak ini mengambil sepeda motornya dan melaju ke arah keributan. Tiba di depan jambur, dia memarkirkan sepeda motornya.
"Lalu, saya ditarik, dipiting, tak ada basa-basi langsung dipukul, dipijak. Kayak mana pengeroyokan lah," ucap Indra.
Saat kejadian, Indra berusaha melarikan diri, tapi tubuhnya dihujani pukulan.
Tak dapat dipastikannya apa saja alat yang dipakai prajurit Armed.
Baca Juga : Kawal Aspirasi May Day 2026, Polda Sumsel Terjunkan 3.432 Personel Gabungan untuk Pengamanan
Kepalanya pun terluka akibat benda tajam. Setelah itu, Indra dibawa ke markas Armed 2/105.
Ia didudukkan lalu dibiarkan pulang sekitar pukul 22 50 WIB.
Dia diantar menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Hidayah.
Namun karena rumah sakit itu tak memiliki alat untuk menscreening kepala, dia bersama keluarganya menuju Rumah Sakit Umum Sembiring di Deli Tua.
Baca Juga : Soal Penyerangan TNI di Deliserdang, Ahmad Sahroni: Itu Reaksi dari Arogansi Rakyat
"Saya dirawat di situ. Ada delapan jahitan di kepala. Di bagian badan ya ada bekas memar cuma tak ada yang sampai patah," ujar Indra.
Kemudian, pada Sabtu (10/11/2024) sore, sejumlah prajurit TNI menjenguknya.
Tak lama, dia dibawa ke Rumah Sakit Putri Hijau untuk menjalani perawatan intensif.
"Di situ, sempat bertemu dengan Pangdam dan mereka minta maaf atas peristiwa penyerangan itu," ungkap Indra.
Baca Juga : Komisi I DPR Minta Oknum TNI Penyerangan di Desa Selamat Dihukum
Namun, ia tak bisa berlama-lama di RS Putri Hijau.
Sebab, dia harus mengikuti simulasi untuk mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPD).
Pada Selasa (12/11/2024) pagi, Indra meninggalkan RS Putri Hijau untuk mengikuti simulasi tersebut.
Kini, Indra kembali menjalani kegiatannya sebagai seorang guru meski kepalanya masih terluka.
Baca Juga : Jemaah Haji Muda Asal Sumut Ini Rela Latihan Jalan Kaki Bertahun-tahun Demi Berangkat ke Tanah Suci
Indra tak memungkiri, hatinya masih belum berdamai atas apa yang sudah dilakukan oleh puluhan prajurit TNI.
Bahkan rasa takut masih menghantuinya.
"Kalau dibilang legowa,ya 100 persen tidak. Saya pun masih merasa takut. Apa lagi saya kan harus bolak balik melewati markas Armed," ujar Indra.
"Untuk pelaku yang terlibat ini semua. Mau yang memukul atau sekadar mengarahkan, ya diiusut tuntas. Hukum harus tetap berjalan. Saya harap terbuka, siapa-siapa aja pelakunya dan ada sanksinya ke mereka," tutupnya.
Baca Juga : Forkopimda Deliserdang Musnahkan Sabu Hasil Tangkapan dari Jaringan Malaysia-Aceh-Medan
Sebelumnya diberitakan, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto telah angkat bicara terkait 45 prajurit TNI yang diamankan atas kasus penyerangan warga Desa Selamat, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Mereka diamankan oleh Polisi Militer Daerah Militer (Pomdam) I Bukit Barisan untuk selanjutnya menjalani pemeriksaan.
Penyerangan warga Desa Selamat terjadi diduga karena perselisihan antara sejumlah prajurit TNI dan warga Desa Selamat di jalan.
(mft/nusantaraterkini.co)
Sumber: Kompas.com
