Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

AS Bangun Fasilitas Karantina Ebola di Kenya untuk Warganya yang Terpapar

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Tenaga kesehatan yang mengenakan pakaian hazmat memindahkan jenazah seorang korban Ebola di Mongbwalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik (RD) Kongo bagian timur, pada 24 Mei 2026. (Foto: Xinhua/Str)

Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana mengirimkan warganya yang terpapar Ebola ke fasilitas karantina baru di Kenya alih-alih menerbangkan mereka ke AS, lapor media AS pada Rabu (27/5/2026).

Pejabat pemerintahan Presiden Trump telah menginstruksikan militer AS untuk mendirikan sebuah fasilitas karantina di Kenya tengah dalam waktu sepekan, lapor The Washington Post, mengutip dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

Baca Juga : Ini Virus Ciptaan Ilmuwan China yang Efek Infeksinya Mengerikan

Rumah sakit lapangan itu akan menampung warga AS yang terpapar virus Ebola, dengan menempatkan mereka di unit-unit biokontainmen yang didatangkan dari AS.

Baca Juga : AS dan Iran Kembali Memanas, Saling Serang Picu Ketegangan Baru di Kawasan Teluk

Rencana awal tersebut memerlukan pembangunan unit berkapasitas 50 tempat tidur dalam waktu sepekan, dengan kemungkinan diperluas hingga 250 tempat tidur. Anggota Layanan Kesehatan Masyarakat AS telah mulai menjalani pelatihan di Joint Base Andrews, Maryland, untuk ditugaskan di fasilitas Kenya itu, papar laporan.

Pusat karantina dan perawatan tersebut akan dirancang bagi pasien Ebola yang perlu segera keluar dari Republik Demokratik (RD) Kongo untuk mendapatkan perawatan, lapor The Associated Press, mengutip seorang pejabat anonim.

Baca Juga : Iran Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain dengan Drone, IRGC Ancam Tingkatkan Serangan

Laporan itu menambahkan bahwa belum jelas di mana tepatnya fasilitas tersebut akan dibangun di Kenya atau apakah pemerintah Kenya telah menyetujui rencana itu.

Baca Juga : Dampak Perang Iran Memanas, 27 Negara Ajukan Dana Darurat ke Bank Dunia

Menurut laporan tersebut, pemerintah AS pada bulan ini telah menerbangkan seorang dokter AS yang menunjukkan gejala Ebola ke sebuah rumah sakit di Jerman, serta mengirim enam warga AS lainnya untuk menjalani pemantauan di Jerman dan Republik Ceko.

Sebelumnya pada bulan ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS telah mengeluarkan penangguhan masuk AS selama 30 hari bagi warga negara asing yang dalam 21 hari terakhir pernah berada di RD Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan. Pekan lalu, kebijakan tersebut diperluas hingga mencakup penduduk tetap yang sah, atau pemegang kartu hijau (green card).

Baca Juga : Overstay hingga 315 Hari di Medan, Biarawati Asal Kenya Dideportasi

Jumlah kasus suspek Ebola di RD Kongo telah menembus 1.000 kasus seiring wabah terus menyebar di provinsi-provinsi di bagian timur negara itu, sebut laporan situasi yang dirilis pada Rabu oleh Kementerian Kesehatan RD Kongo.

(*/nusantaraterkini.co) 

Sumber: Xinhua