Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

80 Tahun Pengadilan Tokyo: Tiongkok Tagih Janji Jepang Hadapi Sejarah Masa Lalu

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi bendera Jepang dan China. (Foto: dok Gemini AI)

Nusantaraterkini.co, BEIJING - Seorang juru bicara (jubir) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Tiongkok mendesak Jepang untuk menunjukkan keberanian dalam menghadapi sejarah dan mengambil tindakan nyata guna mengutuk kejahatan Jepang, seraya mengecam upaya Tokyo yang kembali gencar merevisi konstitusi dan melakukan ekspansi militer.

“Seruan zaman kita adalah perdamaian dan kerja sama, bukan perang dan konfrontasi,” kata Jiang Bin, jubir Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, dalam sebuah konferensi pers, pada Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga : Sektor Industri dan Lemak Nabati Perkuat Ekspor Sumatera Utara, Tembus US$1 Miliar di Awal Tahun 2026

Jiang menyampaikan pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan mengenai kunjungan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi baru-baru ini ke Australia dan Vietnam, di mana dia menggaungkan apa yang disebut sebagai visi terbaru Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka serta mendorong agar konstitusi pascaperang Jepang, yang diselenggarakan selama pendudukan militer AS, harus diperbarui secara berkala untuk memenuhi tuntutan zaman.

Baca Juga : Satelit Tiongkok Rekam Peristiwa Langka Lubang Hitam Memangsa Bintang Katai Putih ​

"Dengan dalih Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka dan kerja sama keamanan, otoritas pemerintah Jepang sedang memicu konfrontasi blok serta membangun sirkel-sirkel kecil," ujar Jiang.

"Hal ini merusak strategi keamanan dan kepentingan negara-negara lain, serta dijadikan alasan bagi Jepang untuk melepaskan diri dari niat terhadap pengembangan militernya, yang dengan tegas kami tolak," tambahnya.

Baca Juga : Kasus Keempat Demam Babi di Jepang Ditemukan, 3.000 Ekor Babi di Shizuoka Dimusnahkan

Tanggal 3 Mei 2026 menandai peringatan 80 tahun dimulainya Pengadilan Tokyo (Tokyo Trial). Selama delapan dekade terakhir, kelompok sayap kanan di Jepang mengerahkan segala upaya untuk meremehkan dan menentang putusan Pengadilan Tokyo yang mewakili hati nurani manusia dan keadilan sejarah, serta mendistorsi dan menyangkal kejahatan agresi kaum militeris Jepang yang terdokumentasi dengan baik dalam dokumen-dokumen tertulis, ungkap Jiang.

Baca Juga : Populasi Anak Jepang Anjlok ke Rekor Terendah, Turun Selama 45 Tahun Berturut-turut

"Para penjahat Kelas perang A, yang bersalah atas kekejaman keji, telah dianggap sebagai pahlawan dan dihormati di Kuil Yasukuni," tuturnya.

Pemerintah Jepang pasca perang memang pernah berjanji untuk menegakkan konstitusi pasifis dan menempuh jalan sebagai negara yang damai. Namun kemudian, mereka mulai hanya sekedar mengumbar janji kosong dan jarang melakukan tindakan untuk menepati janji tersebut.

Baca Juga : PM Sanae Takaichi Siap Dialog dengan Iran Demi Jamin Pasokan Minyak Jepang

“Namun, pemerintahan Sanae Takaichi secara terbuka mendorong amandemen konstitusi Jepang," papar Jiang.

Baca Juga : Bertemu Kaisar Naruhito dan Sanae Takaichi, Presiden Prabowo Tiba di Tokyo

Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sayap kanan Jepang telah melepaskan kepura-puraannya, dan beralih dari pembangunan militer secara diam-diam menuju persiapan perang secara terbuka, menjadikan 'neo-militerisme' Jepang sebagai ancaman yang semakin besar dan nyata bagi perdamaian regional.

“Kami mendesak otoritas pemerintah Jepang untuk menghentikan glorifikasi diri yang munafik serta menjaga ambisi berbahaya mereka dalam ekspansi militer dan persiapan perang, menunjukkan keberanian untuk menghadapi sejarah, serta mengambil tindakan nyata untuk melanggar kejahatan Jepang, agar dapat memperoleh kepercayaan dari negara-negara tetangga di Asia dan komunitas internasional,” imbuh Jiang.

(*/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua