Nusantaraterkini.co, ACEH TAMIANG - Sebanyak 470 Warga Binaan Lapas (WBP) Kelas IIB Kuala Simpang, terpaksa harus dibebaskan saat banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (27/11/2025) lalu.
Saat itu, air yang sudah menyentuh bagian atap Lapas, membuat petugas terpaksa harus mengeluarkan seluruh warga binaan yang ada di dalamnya.
Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang hingga lebih lima meter, tidak hanya menerjang ribuan pemukiman warga yang ada di 12 Kecamatan.
Baca Juga : Pemulihan Sektor Energi Aceh: Suplai BBM dan LPG Berangsur Pulih Pascabencana
Namun, banjir bandang juga turut menerjang lembaga pemasyarakatan yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Saat itu, air yang telah menyentuh hingga ke bagian atap lapas, membuat seluruh WBP Lapas Kelas IIB Kuala Simpang yang berjumlah 470 orang ini, terpaksa harus dibebaskan demi menyelamatkan seluruh nyawa mereka.
Akan tetapi, bukannya langsung melarikan diri usai dikeluarkan dari dalam lapas, para warga binaan ini justru terlebih dahulu ikut membantu para warga yang saat itu terjebak derasnya arus banjir bandang yang terjadi di sekitaran lapas.
Menurut kesaksian sejumlah warga, dengan menggunakan alat seadanya, para warga binaan yang baru saja dikeluarkan ini berusaha untuk mengevakuasi puluhan warga yang saat itu mulai terjebat derasnya arus banjir dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Baca Juga : Pemulihan RSUD Pascabencana Sumatera Dipercepat, Kemenkes Pastikan Fasilitas Segera Berfungsi
"Para warga binaan ini lah yag jadi garda terdepan kami saat banjir bandang kemarin. Bahkan, untuk mendistribusikan makanan saat banjir yang terjadi selama lebih tiga hari kemarin, mereka lah yang mengantarnya ke titik-titik warga bertahan dengan cara berenang menggunakan tali," ujar Zakir, Minggu (7/12/2025) sore.
Sementara itu, salah seorang warga binaan tipikor Lapas Kelas IIB Kuala Simpang, Mursil, yang juga merupakan mantan Bupati Aceh Tamiang mengatakan, saat banjir bandang terjadi seluruh warga binaan yang ada pun berusaha untuk bernegoisasi dengan petugas lapas agar dapat segera dikeluarkan lantaran melihat ketinggian air yang hampir menenggelamkan seluruh bangunan lapas.
"Saat itu kami fikir cuma banjir biasa dari air hujan karna sudah lebih tiga hari hujan lebat, namun semakin malam air semakin tinggi dan keruh. Dan saat itu, kami negoisasi dengan KPLP dan Kalapas untum dikeluarkan. Dan sekitar jam 09.00 pagi akhirnya kami baru dikeluarkan setelah air mulai sampai ke atap lapas," terangnya.
Sementara itu, pascabanjir bandang yang terjadi, saat ini kondisi Lapas Kelas IIB Kuala Simpang sendiri masih porak poranda.
Hingga kini, petugas lapas sendiri masih terlihat berusaha membersihkan seluruh bagian bangunan lapas dari sisa lumpur yang terbawa banjir.
(Cw4/Nusantaraterkini.co)
