Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada akhir perdagangan Rabu (12/2/2025) kurs rupiah menguat terhadap dolar AmerikaSerikat (AS) di pasar spot.
Melansir Bloomberg, Rabu (12/2), rupiah spot menutup sesi perdagangannya pada posisi 16.376 per dolar AS, menguat 0,05% dari sehari sebelumnya.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia Situmorang mengatakan, rupiah hari ini bergerak menguat.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertahan di Rp17.321, Pasar Global Waspadai Eskalasi Konflik AS-Iran
“Rupiah spot dibuka di Rp 16.360, sempat turun ke 16.350, lalu kembali ke 16.370 didorong aliran dari BUMN. Pergerakannya terus berfluktuasi hingga di akhir perdagangan menunjukan adanya penguatan," jelasnya.
Namun, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin justru mengamati pergerakan rupiah hari ini masih melemah terbatas, di tengah fluktuasi harga sejak awal pembukaan perdagangan.
Menurutnya, fluktuasi tekanan rupiah ini tidak terlepas dari kebijakan tarif Trump yang menimbulkan kekhawatiran atas ketegangan perdagangan global.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertahan di Rp17.300-an, Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan Pasar Valas
Yang pada akhirnya berdampak pada lesunya permintaan mata uang di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rentannya katalis dari Asia membuat sentimen akan dipengaruhi bagaimana reaksi pasar global perihal peluang penerapan tarif baru Donald Trump yang akan diumumkan pekan ini.
Selain itu, sentimen pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Dari pernyataannya, Nilai dolar AS semakin menguat dan sebaliknya rupiah semakin tertekan.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar
Dari data domestik, data inflasi bulan lalu yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik menunjukan inflasi (y-on-y) sebesar 0,76%.
Dan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang juga mengalami penurunan dari bulan desember 2024 menjadi 105,99.
Angka ini mencerminkan penurunan daya beli masyarakat yang memberikan sentimen negatif terhadap rupiah.
"Dengan tidak mengesampingkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada 1 Januari 2025 dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan menambah tekanan pada rupiah," Ujar Nanang.
Pergerakan rupiah yang sebagain besar juga dipengaruhi oleh reaksi pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan malam ini.
Dalam analisisnya Nanang memprediksi bila sesuai perkiraan atau lebih tinggi maka makin menguntungkan bagi dolar AS, ketika ruang pemangkasan suku bunga sangat kuat tertahan pada posisi saat ini.
"Ini bisa menekan rupiah untuk bergerak melemah dan bisa mengancam ke area Rp 16.430 per dolar AS, sementara area bawah hanya tertahan pada Rp 16.300," ujar Nanang.
Sedangkan Hossiana memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di kisaran 16.300 – 16.400 per dolar AS pada Kamis (13/2).
