nusantaraterkini.co, BALI - Arena tajen (sabung ayam) di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali ricuh, Sabtu (14/6/2025) pukul 17.00 WITA kemarin.
Dalam kericuhan ini, seorang penyelenggara tajen bernama Komang Alam Sutawan tewas.
Kasi Humas Polres Bangli AKP Wayan Sarta, Minggu (15/6/2025) mengatakan, kasus ini bermula saat seorang warga bernama I Wayan Ludes mencari Komang Alam Sutawan di lokasi penyelenggaraan tajen. Kemudian keduanya tampak cekcok.
Baca Juga : Bali dan Banten Tetap Jadi Primadona, Pintu Masuk Udara Dominasi Kunjungan Wisman Februari 2026
Cekcok antara keduanya berujung pada sebuah perkelahian hingga menyebabkan keduanya babak belur. Warga yang ada di lokasi akhirnya melarikan kedua korban ke rumah sakit.
"Komang Alam Sutawan dibawa ke RSU Bangli dan dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, I Wayan Luwes dirujuk ke RSUP Prof IGNG Ngoerah Denpasar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," katanya.
Tajen atau sabung ayam merupakan tradisi yang terus dilestarikan di Bali. Tajen merupakan bentuk simbolis dalam upacara adat Bali atau yang terkenal sebagai Tabuh Rah.
Baca Juga : Kemacetan 50 Km di Jalur Denpasar–Gilimanuk, DPR Soroti Kesiapan Pemerintah Hadapi Lonjakan Mudik
Tabuh Rah berarti meneteskan darah ke bumi yang merupakan bagian ritual bhuta yadnya sebagai salah satu simbol permohonan agar bhuta (pengaruh negatif) tidak mengganggu dan manusia bisa terhindar dari marabahaya.
Tajen pada masa lalu diarahkan untuk memenuhi fungsi yadnya berupa Tabuh Rah, antara lain Tajen Nyuh dan Tajen Taluh. Kedua Tajen jenis ini dilaksanakan setelah tari kincang-kincung, berupa tarian dengan sarana tombak dan keris pada menjelang upacara piodalan selesai.
(Dra/nusantaraterkini.co).
