Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Banjir dan Longsor Tapteng Tewaskan Empat Warga, BPBD: Sejumlah Wilayah di Sumut Masuki Masa Siaga

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Potongan video kondisi Kabupaten Tapanuli Tengah yang terkena banjir dan longsor. (Foto: Istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Empat warga Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut), dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat banjir yang melanda kawasan itu.

Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu mengatakan saat ini para korban telah dievakuasi pada Selasa (25/11/2025) pagi.

"Jaringan listrik juga bermasalah," kata Masinton saat dikonfirmasi.

Diketahui, hujan deras sejak Minggu, (23/11/2025), memicu banjir dan longsor di berbagai titik di Tapteng serta wilayah lain di Sumut.

Kepala Bidang Penanganan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan, sejumlah daerah kini memasuki masa siaga bencana, menurut laporan terbaru Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumut per 25 November.

Baca Juga : Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Titik Wilayah di Tapteng, Rumah Rusak dan Akses Jalan Putus

Dari pesisir barat seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah hingga wilayah kepulauan seperti Nias Selatan dan Gunungsitoli, dampak banjir dan tanah longsor terjadi secara luas.

Sementara itu, kondisi kontras terjadi di Kabupaten Padang Lawas yang justru mengalami kekeringan berkepanjangan sejak Juli.

Banjir tercatat menjadi bencana dengan cakupan terdampak paling luas. Di Tapanuli Tengah, 1.902 kepala keluarga terdampak di tujuh kecamatan: Pandan, Sarudik, Badiri, Barus, Kolang, Tukka, dan Lumut. Desa Lumut Maju masih terendam, sementara wilayah lain mulai berangsur normal.

Di Kecamatan Tukka, 10 KK atau 45 jiwa masih mengungsi di sebuah gereja.

Baca Juga : Longsor di Pegunungan Aek Sipilit Tapteng, 8 KK Mengungsi

Di Mandailing Natal, dua banjir besar terjadi hampir bersamaan. Di Muara Batang Gadis, luapan air setinggi 1,5 meter merendam 70 rumah dan berdampak pada 400 jiwa.

Di Siabu, luapan Sungai Aek Badan merusak 40 hektar lahan pertanian serta merobohkan dek penahan sungai, meningkatkan risiko banjir susulan.

"Pemerintah daerah telah melakukan penanganan awal, mulai dari assessment, evakuasi hingga pengamanan harta benda," kata Sri Wahyuni Pancasilawati, saat dikonfirmasi.

Longsor Terjadi di Banyak Titik

Longsor dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Sumut. Di Sibolga, material longsor menutup total akses Jalan II Nomensen pada Senin malam, meski tidak ada korban jiwa.

Di Tapanuli Selatan, longsor memutus jalur penghubung antara Tapsel dan Mandailing Natal di Kelurahan Rianiate, Angkola Sangkunur. Longsoran sepanjang 37 meter dengan tinggi 9,5 meter menutup akses, sementara dua rumah warga di Angkola Barat rusak berat.

Di wilayah kepulauan, longsor di Nias Selatan memutus beberapa ruas jalan kabupaten dan merusak satu rumah warga. Di Gunungsitoli, longsor sepanjang 25 meter mengganggu jalur lintas tengah KM 12 dan merusak satu rumah di Dusun II Samasi akibat amblasnya tembok penahan tebing.

Baca Juga : Empat Warga Tewas Tertimbun Longsor di Tapteng, Satu Keluarga Lenyap Saat Terlelap

Laporan teranyar juga menyebut lima titik longsor menutup akses di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, dengan satu warga mengalami luka.

Padang Lawas Tetap Dilanda Kekeringan

Berbeda dari wilayah lain yang dilanda banjir dan longsor, Padang Lawas masih mengalami kekeringan parah sejak Juli. Sebanyak 832 KK atau sekitar 2.900 jiwa terdampak dan kesulitan mendapatkan air bersih. Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air melalui truk tangki, namun kondisi belum pulih.

BPBD Sumut mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi hujan ekstrem diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)