Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pihak kuasa hukum Rektor Universitas Pancasila berinisial ETH, membantah soal isu pelecehan yang dilakukan kliennya terhadap karyawan di kampus tersebut.
"Berita tersebut kami pastikan didasarkan atas laporan yang tidak benar dan tidak pernah terjadi peristiwa yang dilaporkan tersebut," kata Kuasa Hukum ETH, Raden Nanda Setiawan saat dikonfirmasi, dilansir Kompas.com, Minggu (25/2/2024).
Nanda juga menemukan adanya kejanggalan dalam laporan ini. Menurut dia, dugaan pelecehan seksual yang terjadi satu tahun silam baru dilaporkan. Apalagi, kasus ini baru terungkap pada saat proses pemilihan rektor baru di Universitas Pancasila.
Baca Juga : DPR Soroti Dugaan Pelecehan Seksual oleh Tokoh Agama, Desak Penegakan Hukum tanpa Kompromi
"Terlebih, isu pelecehan seksual yang terjadi satu tahun lalu, terlalu janggal jika baru dilaporkan pada saat ini dalam proses pemilihan rektor baru," ujar Nanda.
Walaupun begitu, Nanda menyatakan bahwa kliennya siap mengikuti proses terkait dengan laporan tersebut.
"Kami percayakan kepada pihak Kepolisian untuk memproses secara profesional," katanya.
Baca Juga : Terekam CCTV, Pria Berhelm Kuning Diduga Lecehkan Bocah Perempuan
Untuk diketahui, Kuasa Hukum korban berinisial RZ, Amanda Manthovani mengungkapkan dugaan pelecehan seksual ini terjadi pada 6 Februari 2023.
"Saat itu RZ dapet laporan dari sekretaris rektor, bahwa hari itu dia harus menghadap rektor. Jam 13.00 WIB dia menghadap rektor, dia ketuk pintu, pas dia buka pintu rektornya sedang duduk di kursi kerjanya," kata Amanda.
Korban kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan ETH.
Baca Juga : Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan 1.200 Intelektual, Mensesneg: Pembicaraan Teknis
Menurut dia, kala itu ETH memberikan sejumlah perintah terkait pekerjaan kepada korban. Namun, sang rektor perlahan bangkit dari kurisinya lalu duduk di dekat RZ.
"Enggak lama kemudian dia sambil duduk nyatet-nyatet, tiba-tiba dia dicium sama rektor, pipinya," ujar Amanda.
RZ yang terkejut lantas berdiri dari posisinya. Korban mengaku ketakutan dan hendak melarikan diri dari lokasi kejadian.
Baca Juga : Pemilihan Rektor USU Ditunda, Diduga Karena Pelanggaran Proses Penjaringan Calon Rektor
Akan tetapi, ETH tiba-tiba memintanya untuk meneteskan obat tetes dengan dalih matanya memerah. Dalam kondisi tersebut, RZ melakukan permintaan ETH dengan jarak yang tak terlalu dekat. Di saat itulah, ETH disebut melecehkan RZ. (rsy/nusantaraterkini.co)
