Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Banyak Debu, ISPA Ancam Kesehatan Pengungsi Korban Banjir Bandang di Tapsel

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Potret jalanan berdebu pascabanjir bandang dikhawatirkan oleh para pengungsi dapat menyebabkan penyakit ISPA. (Foto: dok Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, TAPSEL - Para pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mulai mengkhawatirkan dampak kesehatan, terutama penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Hal ini lantaran, lingkungan mereka banyak beterbangan debu dan partikel kecil yang berasal dari lumpur banjir yang telah mengering. 

Salah seorang korban, Abdul Majid mengaku merasa terganggu dan khawatir atas ancaman penyakit pernapasan tersebut. Khususnya, kata dia, jika ISPA sampai menyerang anak-anak.

"Permintaan kami kepada pemerintah cepatlah dibersihkan dan dibagikan masker kepada kami. Karena sampai sekarang belum ada dibagi masker," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (15/1/2026). 

Baca Juga : Pascabanjir, Belasan Ribu Warga Sumut Dilaporkan Terjangkit ISPA dan Penyakit Kulit

Dia menjelaskan, di tempatnya ini, apabila cuaca panas, sejumlah warga pun terganggu dengan banyaknya debu yang berterbangan akibat terbawa kendaraan yang melintas.

"Begitu juga apabila hujan turun, ruas jalan di lokasi ini akan licin dan berlumpur," jelasnya. 

Sementara itu Juliana Siregar, korban banjir bandang lainnya berharap, agar pihak berwenang dapat secepatnya mengendalikan situasi ini. Apalagi mereka sampai sekarang masih harus tinggal di posko pengungsian. 

"Masyarakat kami ini apalagi dalam kondisi ini tidur nggak tau kemana, di posko lah, makanya kami mohon dan berharap secepatnya kendalikan kami," pungkasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Sumut telah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit pascabencana banjir di sejumlah kabupaten/kota.

Berdasarkan data per 31 Desember 2025 pukul 13.00 WIB, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit kulit menjadi kasus tertinggi yang dilaporkan.

Baca Juga : Temukan Banyak Kasus ISPA, Presiden Prabowo Minta Layanan Medis di Pengungsian Tapsel Terus Diperkuat

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid mengatakan, jumlah kasus ISPA tercatat mencapai 17.150 kasus, sementara penyakit kulit mencapai 13.107 kasus. Tingginya angka tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan pasca banjir.

"ISPA dan penyakit kulit mendominasi laporan penyakit pasca bencana. Hal ini dipengaruhi paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang belum optimal, serta kepadatan dan kelembapan di lokasi pengungsian,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).

Selain itu, Dinkes Sumut juga mencatat penyakit berbasis air dan makanan masih cukup tinggi. Kasus diare tercatat 2.536 kasus, Influenza Like Illness (ILI) sebanyak 1.006 kasus, serta suspek demam tifoid sebanyak 661 kasus.

“Angka ini menggambarkan masih adanya risiko penyakit saluran cerna dan pernapasan akut non-spesifik yang berhubungan langsung dengan kualitas air bersih dan keamanan pangan pasca banjir,” jelasnya.

Baca Juga : ISPA dan Penyakit Kulit Dominasi Keluhan Pengungsi Banjir di Aceh dan Sumatera

Hamid menegaskan, pola penyakit pasca bencana di Sumut menunjukkan dominasi penyakit kulit, pernapasan, serta penyakit berbasis air. Kondisi ini selaras dengan dampak banjir terhadap sanitasi lingkungan, hunian sementara, dan akses air bersih. 

"Dinkes Sumut bersama kabupaten/kota terus memperkuat surveilans epidemiologi, pelayanan kesehatan, edukasi PHBS, serta memastikan ketersediaan air bersih dan obat-obatan agar potensi KLB dapat dicegah,” pungkasnya.

(*/Nusantaraterkini.co)