Nusantaraterkini.co,Bencana alam yang menimpa di beberapa wilayah di Sumatera Utara khususnya empat daerah terparah yakni, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga dan Tapanuli Selatan.
Sebanyak ratusan ribu warga terpaksa mengungsi di tenda-tenda penampungan dan tak sedikit pula harus kehilangan nyawa.
Bahkan puluhan ribu rumah rusak hingga hilang terbawa banjir bandang, sejak 24 November 2025 kemarin.
Menurut penjelasan beberapa warga yang terdampak, kondisi ini terbilang sangat besar dibanding beberapa tahun belakangan.
Teranyar berdasarkan data pihak kepolisian sebanyak 32 orang menghembuskan nafas terakhirnya lantaran tak bisa menyelamatkan diri saat bencana di depan mata.
Bencana alam yang terjadi, apakah kesalahan alam atau dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab.
Berdasarkan video-video yang beredar di media sosial, banjir bandang tak hanya membawa air dan tanah, namun juga membawa jutaan ton kayu hasil penebangan liar.
Tak ada yang berani mempertanggungjawabkan kerusakan alam, yang tercatat menjadi kerusakan terparah sejak puluhan tahun terakhir.
Dari data BNPB, banjir dan longsor yang terjadi di empat wilayah terparah di Sumut ini dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka.
Dua siklon itu mereka sebut menyebabkan hujan lebat dan angin kencang di kawasan Sumatera Utara.
Namun kelompok advokasi lingkungan Walhi meyakini bahwa banjir dan longsor ini tak bisa dilepaskan dari "kerusakan hutan".
Namun akibat penebangan kayu yang masif dan pertambangan emas yang dioperasikan perusahaan swasta.
Bahkan dalam peristiwa bencana alam ini, puluhan orang dilaporkan masih terjebak di dalam hutan di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah.
Sementara, kondisi ini diperparah dengan terputusnya jaringan telekomunikasi hingga akses darat menuju ke empat titik lokasi tersebut.
Bantuan logistik dari berbagai sumber baik pemerintah, komunitas hingga perorangan terhenti di titik-titik longsor.
Bahkan puluhan eskavator yang diturunkan untuk membuka longsoran baik kawasan Taput, Tapsel, belum membuahkan hasil maksimal.
Kondisi diperparah dengan hujan terus mengguyur wilayah yang berdampak sehingga menambah titik longsor.
Di Tapanuli Utara sendiri tercatat puluhan titik longsor yang belum dapat dibuka.
*Penulis:M Fadli Taradifa, jurnalis di Medan
