Nusantaraterkini.co, Medan — Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bekerja sama dengan Pusat Diklat SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan "Pelatihan Edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup Bagi Guru Tingkat Menengah" di Provinsi Sumatera Utara.
Pelatihan ini berlangsung selama lima hari, mulai dari tanggal 12 hingga 16 November, bertempat di Hotel Grand Mercure, Medan.
Baca Juga : Zakiyuddin Harahap: Penanganan Banjir Rob Belawan Membutuhkan Peran Lintas Sektoral
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesadaran dan pemahaman para guru terkait pentingnya pelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove.
Baca Juga : Menilik Pesona Hutan Bakau di Bekasi Jawa Barat
Sebanyak 150 guru tingkat menengah dari berbagai sekolah di Sumatera Utara ikut serta dan didorong untuk menjadi “duta lingkungan” di sekolah masing-masing.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ir. Abdul Haris Lubis, M.Si., menyampaikan dukungannya terhadap pelatihan ini.
Baca Juga : Peringatan Hardiknas, Rico Waas Tegaskan Komitmen Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Merata
Menurutnya, tingkat kerusakan lingkungan di wilayah Sumatera Utara semakin tinggi, sehingga kesadaran generasi muda dalam menjaga alam menjadi sangat penting.
Baca Juga : Peringatan Hardiknas 2026, Cerita Guru dan Siswa Menghadapi Perubahan Zaman
"Kita harapkan generasi selanjutnya memiliki pengetahuan yang baik untuk melestarikan dan menjaga lingkungan," ujar Abdul Haris.
Selain pelatihan ini, Kepala Dinas Pendidikan, Budiyanto, S.Hut., menambahkan bahwa akan ada peluncuran kurikulum baru berbasis lingkungan pada hari Jumat.
Baca Juga : Komisi X Apresiasi Penurunan Angka Putus Sekolah, Pemerintah Diminta Tak Cepat Puas
Kurikulum ini akan diterapkan di sekolah-sekolah yang dekat dengan kawasan pesisir dan hutan mangrove, sesuai dengan prinsip Merdeka Belajar.
Baca Juga : Anies Baswedan: Generasi Emas Harus Kuasai AI Tanpa Kehilangan Integritas dan Daya Kritis
“Fokus kami pada sekolah di area pesisir bertujuan agar siswa bisa belajar langsung dari lingkungan mereka. Ini diharapkan meningkatkan pemahaman mengenai ekosistem mangrove dan pentingnya menjaga kelestariannya,” jelas Budiyanto.
Plt. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Asep Perry M. Athoriez, SP, menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam mendukung keberhasilan pelatihan dan kurikulum ini.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini. Harapannya, para guru yang dilatih dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan di sekolah dan masyarakat,” ujar Asep Perry.
Rehabilitasi mangrove, yang menjadi fokus utama, melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, NGO, dan masyarakat setempat.
Tujuannya adalah memulihkan, meningkatkan, dan menjaga kelestarian ekosistem mangrove untuk jangka panjang.
Diharapkan, upaya ini mampu menjaga keseimbangan alam di Sumatera Utara dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Dengan melibatkan guru sebagai pelopor, BRGM berharap para siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelestarian lingkungan.
Pendidikan sejak dini ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang aktif dalam menjaga kelestarian alam, khususnya ekosistem mangrove, yang memiliki peran penting bagi lingkungan pesisir dan sekitarnya.
“Jika para siswa sudah mengenal dan mencintai lingkungannya sejak dini, kita bisa membayangkan masa depan yang lebih hijau dan lestari bagi Sumatera Utara,” tutupnya.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
