Nusantaraterkini.co, MEDAN - Taman Budaya Medan menjadi saksi dari diskusi inspiratif yang menghadirkan tiga narasumber berpengalaman dalam dunia seni dan budaya pada Kamis (11/10/2024).
Diskusi bertajuk "Cakap-Cakap Karya, Tata Kelola, dan Jaringan" ini melibatkan Bersihar Lubis, jurnalis senior; Dini Usman, Ketua Deli Art Community; dan Murah Mansyah, seniman kerografi.
Dalam sesi pembuka, Bersihar Lubis menekankan pentingnya kemampuan aktor dalam pementasan teater.
Baca Juga : 30 Tahun Otonomi Daerah, DPR Soroti Ketimpangan dan Ketergantungan pada Pusat
“Para aktor harus bisa berperan seolah-olah benar, menipu penonton, tetapi penonton tidak merasa ditipu. Ini memerlukan kemampuan untuk berekspresi yang mendalam,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa manajemen teater sangat penting agar setiap pementasan tidak hanya sekadar dilakukan, melainkan dikelola dengan baik untuk menjamin kualitas dan daya tarik.
Dini Usman menyoroti tantangan dalam dunia seni di Medan, di mana kurangnya literasi seni menghambat perkembangan karya.
Baca Juga : Targetkan Peningkatan Tata Kelola, Direksi Bank Sumut Silaturahmi dengan Kajati
“Masyarakat Indonesia masih minim literasi mengenai seni. Ruang kebudayaan di Medan itu luas, dan kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbanyak eksplorasi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya jaringan seni, menyebutkan bahwa kurangnya kerjasama dan interaksi di kalangan pelaku seni mengakibatkan stagnasi, khususnya dalam bidang tari.
“Kenapa Sumatera Barat lebih gencar dan maju dibandingkan Sumatera Utara? Salah satu alasan utamanya adalah kolaborasi. Kita perlu bekerja sama dan berkolaborasi untuk memajukan seni budaya,” tambah Dini.
Baca Juga : Hadiri Festival Musikalisasi Puisi, Rico Waas Maknai Filosofi Kopi dan Kepo
Dia juga menggarisbawahi bahwa karya seni tanpa riset hanya akan bertahan dalam jangka pendek, sehingga riset dan eksplorasi harus menjadi fondasi dalam berkarya.
Murah Mansyah, yang berbicara tentang jaringan, menambahkan, “Jaringan yang dapat terealisasi harus bisa merangkul semua elemen seni. Kita perlu memperkuat koneksi untuk mendukung perkembangan seni dan budaya.” Ia menegaskan pentingnya membangun paradigma baru dalam berkarya di Medan, di mana visi dan misi seni harus lebih jelas agar dapat menghasilkan karya yang berkelanjutan.
Dini juga menjelaskan motif di balik eksplorasi para seniman, “Melalui eksplorasi, seniman dapat menemukan inspirasi baru, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan produk inovatif. Ini bukan hanya soal berkarya, tetapi juga tentang tanggung jawab personal dan pencarian diri,” ujarnya.
Baca Juga : Disdikbud Medan Pecat 3 PHL terkait Dugaan Pungli di Taman Budaya
Dalam acara ini, kolaborasi di bawah naungan Konsorsium Seniman Medan, Dinas Pendidikan Kota Medan, dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali seni dan budaya di Medan.
Diskusi ini menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi, riset, dan manajemen yang baik dalam memperkuat jaringan seni di daerah, agar seni dan budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan beradaptasi dengan zaman.
"Kolaborasi yang lebih erat antara seniman, institusi pendidikan, dan pemerintah akan menciptakan ekosistem seni yang lebih inklusif dan berdaya saing. Masyarakat diharapkan juga lebih aktif berpartisipasi dalam dunia seni, meningkatkan literasi seni, dan memberikan dukungan terhadap karya-karya lokal. Dengan demikian, Medan dapat menjadi pusat kebudayaan yang tidak hanya kaya akan tradisi, tetapi juga inovatif dalam menciptakan karya-karya yang relevan dan berpengaruh di kancah nasional maupun internasional," tutup Murah Mansyah. (cw9/nusantaraterkini.co)
