Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dampak Polusi dan Perubahan Iklim, Seperempat Spesies Ikan Air Tawar Terancam Punah

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi. (Foto: istockphoto)

Dampak Polusi dan Perubahan Iklim, Seperempat Spesies Ikan Air Tawar Terancam Punah

Nusantaraterkini.co - Sekitar seperempat spesies ikan air tawar di dunia terancam punah akibat dampak perubahan iklim dan polusi.

Baca Juga : Wapadai 10 Ikan ini Mengandung Merkuri Tinggi, Banyak yang Konsumsi

Menurut Daftar Merah Spesies Terancam Punah terbaru yang dikeluarkan pada Senin (11/12/2023), salah satu ancaman utama adalah perubahan iklim yang merusak siklus air, seperti menurunnya permukaan air tawar dan kenaikan permukaan air laut sehingga memasuki sungai melalui muara.

Baca Juga : Harga Ikan Laut Melambung, Banyak Warga Beralih ke Ayam Potong

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyampaikan dalam analisis mendalam pertama mengenai ikan air tawar, lebih dari 3.000 spesies dari 15.000 spesies dalam kategori berisiko.

Salah satu yang mengalami risiko adalah ikan salmon Atlantik yang hidup di air laut dan air tawar. Ikan ini mengalami penurunan kategori dari "tidak dikhawatirkan" menjadi "hampir terancam punah" dari bukti bahwa populasi globalnya menurun sebesar 23 persen antara 2006 dan 2020.

Baca Juga : Tahukah Kamu, Ternyata Ikan Salmon Bisa Membunuh Hiu, Cek Faktanya di Sini

Penyebab kematian salmon antara lain kutu salmon dari peternakan ikan dan bertambahnya spesies invasif yang mengancam salmon.

"Memastikan ekosistem air tawar dijaga dengan baik, tetap mengalir dengan volume air cukup dan kualitas air yang baik adalah penting untuk menghentikan berkurangnya spesies dan mempertahankan ketahanan pangan, mata pencarian dan perekonomian di dunia yang berketahanan iklim," kata Kathy Hughes, salah satu ketua Kelompok Spesialis Ikan Air Tawar Komisi Kelangsungan Hidup Spesies IUCN dilansir dari Antara.

Ikan lain yang dalam posisi bahaya adalah ikan "perampok bergigi besar" yang ditemukan di Kenya yakni di danau gurun pasir terbesar dunia, Danau Turkana.

Spesies ini jatuh dua kategori menjadi "Rentan punah" yang sebagian disebabkan menurunnya volume air di habitatnya akibat perubahan iklim dan juga aliran air berkurang akibat pembuatan bendungan, kata IUCN.

Sedangkan untuk kabar baik, IUCN menyebut hewan Scimitar Oryx tidak lagi berstatus punah di alam liar akibat upaya pelepasliaran yang berhasil di Chad di mana ratusan anak hewan sejenis antelop itu dilahirkan di alam liar.

(zie/nusantaraterkini.co)

Sumber: Antara