Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Desak Pemerintah Benahi Tol Trans Sumatra, Ruslan M. Daud: Jangan Tunggu Korban Jatuh Saat Mudik

Editor :  hendra
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ruslan M. Daud Saat Berdialog dengan Konsituen Saat Reses DPR RI (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTAAnggota Komisi V DPR Ruslan M. Daud, melontarkan kritik keras terhadap kesiapan pemerintah dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam menghadapi arus mudik Lebaran 2026

Ia menilai hingga awal Maret, kondisi sejumlah ruas Tol Trans Sumatera masih jauh dari ideal untuk menopang lonjakan kendaraan.

Menurut Ruslan, pemerintah tidak boleh sekadar mengandalkan narasi kesiapan tanpa memastikan kualitas infrastruktur benar-benar teruji di lapangan. 

Baca Juga : Jalan Tol Seksi Tanjung Pura-Brandan Bakal Buka Pada Mudik Lebaran

Ia mengingatkan bahwa waktu menuju puncak arus mudik tinggal hitungan pekan, sementara laporan kerusakan jalan masih bermunculan.

“Jangan sampai perbaikan justru dilakukan ketika arus mudik sudah berjalan. Ini bukan soal administrasi proyek, ini soal keselamatan jiwa masyarakat,” tegasnya, Senin (2/3/2026).

Sorotan utama Ruslan tertuju pada kerusakan di ruas Tol Kayu Agung–Palembang yang dilaporkan memiliki titik lubang dan permukaan tidak rata. Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan dan kontrol kualitas terhadap proyek strategis nasional yang menyerap anggaran besar.

“Tol ini dibangun dengan biaya triliunan rupiah dan dibebankan tarif kepada masyarakat. Kalau kualitas aspalnya buruk dan membahayakan, ini bukan sekadar kelalaian teknis, tetapi kegagalan tata kelola,” ujarnya.

Sebagai anggota Komisi V yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, Ruslan juga menyinggung tanggung jawab pemerintah pusat dalam memastikan standar pelayanan minimum (SPM) jalan tol benar-benar ditegakkan. 

Ia mempertanyakan komitmen evaluasi terhadap BUJT jika temuan kerusakan terus berulang menjelang momentum besar seperti mudik Lebaran.

Tak hanya kondisi jalan, Ruslan mengkritik minimnya penerangan di sejumlah titik jalur tol Sumatera. Ia menyebut lampu penerangan yang tidak optimal dapat memperbesar risiko kecelakaan, terutama bagi pengemudi yang menempuh perjalanan malam hari dalam kondisi lelah.

“Penerangan jalan bukan fasilitas tambahan, itu elemen keselamatan dasar. Kalau masih ada titik gelap, artinya ada pembiaran,” katanya.

Ia juga mendesak audit menyeluruh terhadap marka jalan, rambu, dan sistem drainase guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem. Menurutnya, kelalaian kecil pada sistem pendukung bisa berdampak besar saat volume kendaraan melonjak tajam.

Dalam konteks pelayanan publik, Ruslan menilai manajemen rest area di Tol Trans Sumatera belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan pemudik. 

Ia menegaskan bahwa fasilitas seperti air bersih, toilet higienis, hingga pengaturan parkir bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi menekan angka kecelakaan akibat kelelahan pengemudi.

“Rest area yang semrawut hanya akan menambah risiko. Pemerintah dan pengelola tol harus berhenti bekerja reaktif. Persiapan mudik itu agenda tahunan, bukan kejutan,” pungkasnya.  

(LS/Nusantaraterkini.co)