Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Diplomasi Ala Bupati Deli Serdang Asril

Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Diplomasi Ala Bupati Deli Serdang Asril. (Foto: Istimewa)

Oleh: Yos Nggarang 

Namanya Asri Ludin Tambunan, akrab disapa Dokter Aci. Ia Dokter Spesialis  Penyakit Dalam, lulusan Universitas Sumatera Utara (USU).

Pemilukada 2024 lalu ia mencalonkan diri maju sebagai Bupati kabupaten Deli Serdang dan Ia pun diberi amanah oleh rakyat untuk memimpin daerah Deli Serdang yang dihuni 2.078.046 jiwa penduduk, menjadikannya kabupaten dengan populasi terbesar di Sumatera Utara. 

Baca Juga : Forkopimda Deliserdang Musnahkan Sabu Hasil Tangkapan dari Jaringan Malaysia-Aceh-Medan

Sebelum menjabat sebagai bupati, hari-harinya tidak hanya melayani pasien untuk operasi. 

Namun, ia ternyata juga seorang birokrat tulen yang menduduki posisi Kepala Dinas Kesehatan (Kadis Kesehatan) Deli Serdang. Karir yang sangat cemerlang.

Kala ia menjabat sebagai Kadis Kesehatan, tugasnya hanya sebatas sektor Kesehatan. Dengan amanah baru sebagai Bupati, tugasnya mencakup semuanya, sebagaimana janjinnya  “Mewujudkan Deli Serdang Sehat, Cerdas, Sejahtera, Religius dan Berkelanjutan ”

Baca Juga : Cegah Kafilah Luar Daerah, Pemkab Deliserdang Perketat Aturan MTQ ke-59

Dalam menjalankan pemerintahannya, Bupati Asril di-drive oleh visi di atas, ini tererekam dalam obrolan kami.

Tekadnya, visi itu harus diwujudkan. Namun ia dihadapkan dengan kemampuan fiskal yang sangat terbatas, dimana dalam anggaran APBD  tahun 2025 ini hanya  4,78 triliun rupiah.

Angka ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk dan wilayah yang sangat luas (2.497.72 km²). Saking luasnya, Deli Serdang menjadi "pagar" yang mengelilingi Kota Madya Medan. 

Deli Serdang pula selama ini sebagai penopang pangan Kota Medan dan sejumlah kabupaten di Sumut.

Tahun (2024) surplus beras; kebutuhan 212.144,76 ton sedangkan hasil produksi 319.855,44 ton. Selisih antara kebutuhan dan produksi sebesar 107.710,68. Angka yang sangat fantastis, sehingga boleh dikatakan kabupaten ini sudah dikategorikan swasembada Beras.

Swasembada ini buat bupati lain mungkin happy, bagi dia tidak terlalu happy. Mengapa? Di Deli Serdang sendiri bulan Agustus mengalami kenaikan inflasi harga beras Agustus 5,79 persen naik 1,52 dari Juli.

Miris memang. Swasembada Beras, tapi daerahnya sendiri mengalami inflasi.

Penyebab dari inflasi ini adalah sebagian besar beras dipasok keluar keseluruh daerah di Sumut.

Tidak mau larut pada kondisi inflasi, Bupati pun mencari cara agar Inflasi tidak terjadi lagi.

Hari Jumat (12/9/2025) kemarin, ia datang ke Jakarta mengabarkan soal kondisi kabupatennya ke Menteri Bappenas, Profesor Doktor, Ir Rahmat Pambudy.

Sang Menteri langsung mengajak Bupati Asril dan rombongan Salat Jumat bersama di Mesjid Sunda Kelapa samping kantor Bappenas.

Gayung bersambut, kabar soal Inflasi harga beras Deli Serdang menjadi perhatian Bappenas.

Bupati Asril meminta dukungan anggaran yang diperuntukkan untuk memperbaiki irigasi yang sudah ada dan irigasi baru, juga berharap dukungan modernisasi alat-alat produksi pertanian. Tujuannya tentu agar  produksi beras terus bertambah atau harus lebih tinggi dari angka surplus yang sekarang.

Permintaan ini adalah afirmasi keadaan nyata di Deli Serdang dan tentu sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo, yaitu mewujudkan Swasembada Pangan.

"Oke, pak Deputy Wilayah (Pak Medrilzam) bereskan soal Deli Serdang ya?" Begitu respons yang bersifat perintah dari sang Menteri kepada Deputy.

Dari Menteng Ke Kuningan

Jumat (12/9/2025) itu, Bupati Asril begitu sibuk di Jakarta. Dari kantor Bappenas wilayah Menteng ,Jakarta Pusat, ia melanjutkan agenda ke 'kantor rakyat' dibilangan Kuningan, yaitu Kementrian Hak Asasi Manusia ( Kemen HAM).

Di Kemen HAM, saya sebagai Staf Khusus Menteri Bidang Pemenuhan HAM menyambut Bupati dan setelahnya audinesi dengan Wakil Menteri Mugyanto.  

Ia paham, KemenHAM adalah "terminal" peraduan terakhir untuk berbagai soal.

Yang membawa dia sampai dikantor yang dipimpin Menteri Natalius Pigai ini adalah visinya sebagai Bupati dan juga terikat untuk mewujud Asta Cita Presiden Prabowo nomor satu: Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak Asasi Manusia.

Ke Wamen HAM, ia melaporkan  soal terkait agenda pemenuhan HAM bagi anak-anak yang masih bersekolah di gedung-gedung sekolah yang berada pada wilayah tanah milik BUMN PTPN guna mendapat dukungan dari Menteri BUMN untuk usulan perubahan status lahan, agar anak-anak bisa dapat bersekolah dengan nyaman dan baik melalui dukungan pembiayaan dari pemerintah.

"Sekolah merupakan kebutuhan dasar. Yang diperjuangkan pak Bupati sekarang ini adalah dalam rangka mewujudkan aspek Pemenuhan HAM-hak dasar anak untuk bersekolah. Karena itu Kemen HAM tidak hanya untuk memfasilitasi, tapi menyelesaikan persoalan ini," ujar Mugyanto.

"Jika persoalan status lahan ini selesai pak Wamen, maka kerja selanjutnya adalah penghijauan lingkungan sekolah. Kami ingin  lingkugan yang bersih dan sehat: oksigennya juga harus surplus. Dengan begitu  Deli Serdang tidak hanya sebatas surplus pangan, tapi surplus oksigen dilingkugan sekolah," kata Asril.

"Lingkungan yang hijau, bersih dan sehat ini juga bagian dari aspek HAM.  Makan  Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat (gratis), cek kesehatan gratis, lingkungan yang sehat  merupakan Astacita nomor satu. Inilah yang kami (Deli Serdang) perjuangakan dan sedang  dikerjakan, mohon dukungan pusat," tutup Asril.

Dari Salat Jumat bersama Menteri Bappenas, makan Soto dan minum Kopi di Kemen HAM, dan sore harinya lanjut di Kementrian Desa. Inilah diplomasi sehari Asril untuk Deli Serdang lima tahun ke depan. (*)

Penulis adalah Staf Khusus Menteri HAM Bidang Pemenuhan HAM.