Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

DPR Desak Pemerintah Bergerak Cepat Benahi Infrastruktur Mudik Lebaran 2026

Editor :  hendra
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Sudjatmiko Disela-sela Raker Komisi V DPR (foto:istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Kritik keras dilontarkan anggota Komisi V DPR, Sudjatmiko, terhadap kesiapan pemerintah menghadapi arus mudik Lebaran 2026

Ia menilai pemerintah tidak boleh sekadar mengandalkan pola persiapan rutin, sementara berbagai persoalan mendasar seperti jalan rusak dan keterbatasan armada transportasi masih menjadi pekerjaan rumah yang berulang setiap tahun.

Sudjatmiko mendesak pemerintah segera mempercepat perbaikan infrastruktur, terutama ruas jalan yang rusak akibat curah hujan tinggi. Menurutnya, kondisi jalan berlubang dan sambungan jembatan yang rusak berpotensi menjadi ancaman serius bagi keselamatan jutaan pemudik.

Baca Juga : Kemacetan 50 Km di Jalur Denpasar–Gilimanuk, DPR Soroti Kesiapan Pemerintah Hadapi Lonjakan Mudik

“Keselamatan pemudik harus menjadi prioritas absolut. Jalan berlubang tidak boleh dibiarkan sampai arus kendaraan meningkat. Pemerintah harus bergerak cepat menutup kerusakan jalan dan memperbaiki sambungan jembatan sebelum mudik dimulai,” kata Sudjatmiko di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Politikus daerah pemilihan Jawa Barat VI itu juga mengingatkan bahwa tantangan mudik Lebaran jauh lebih kompleks dibandingkan periode libur Natal dan Tahun Baru. Meski data menunjukkan tren kecelakaan saat Nataru turun sekitar 7 persen, ia menilai pemerintah tidak boleh berpuas diri.

Menurutnya, potensi pergerakan kendaraan saat mudik Lebaran jauh lebih besar, terutama karena sekitar 90 persen kendaraan dari kawasan Jabodetabek diperkirakan bergerak serentak ke arah timur Pulau Jawa.

Baca Juga : Prediksi 150 Juta Pemudik, DPR Desak Pemerintah Tambah Kuota Mudik Gratis 2026

“Angka itu menunjukkan skala mobilitas yang sangat besar. Kalau persiapan tidak dimatangkan dari sekarang, risiko kemacetan parah dan kecelakaan tetap tinggi,” tegasnya.

Di sektor transportasi laut, Sudjatmiko menyoroti rencana penambahan armada kapal feri dari 40 menjadi 80 unit. Ia menilai langkah tersebut penting, tetapi harus dibarengi dengan manajemen operasional yang lebih disiplin agar tidak hanya menambah jumlah kapal tanpa memperbaiki tata kelola di pelabuhan.

Ia juga mendorong peningkatan kapasitas di sektor udara dan perkeretaapian, baik melalui penambahan frekuensi penerbangan maupun gerbong kereta tambahan. Tanpa langkah tersebut, lonjakan penumpang dikhawatirkan akan memicu penumpukan dan gangguan layanan transportasi.

Selain persoalan kapasitas angkutan, Sudjatmiko menyoroti titik rawan kecelakaan yang kerap muncul di jalan tol menjelang waktu berbuka puasa. 

Ia menilai kondisi tersebut sering kali dipicu oleh minimnya kapasitas rest area serta distribusi bahan bakar yang tidak optimal.

“Kapasitas rest area di ruas tol yang padat harus ditambah. Pasokan BBM juga harus dipastikan aman agar tidak memicu antrean panjang yang berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ujarnya.

Sudjatmiko juga menyinggung faktor cuaca ekstrem yang masih berpotensi mengganggu arus mudik tahun ini. Ia mendukung langkah modifikasi cuaca di beberapa wilayah strategis seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Namun, menurutnya upaya tersebut harus diiringi koordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika agar informasi cuaca dapat diperbarui secara berkala dan menjadi dasar pengambilan keputusan di sektor penerbangan maupun pelayaran.

“Koordinasi dengan BMKG harus dilakukan secara serius. Informasi cuaca yang akurat sangat krusial bagi keselamatan transportasi, terutama ketika kondisi cuaca masih sangat fluktuatif,” pungkasnya. 

(LS/Nusantaraterkini.co).