Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

DPR Pertanyakan Impor 1.000 Ton 'Beras Khusus' dari AS, Pemerintah Harus Transparan

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Firman Soebagyo saat diwawancarai di salah satu gudang Bulog. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Soebagyo melontarkan kritik keras terhadap rencana pemerintah mengimpor 1.000 ton beras khusus dari Amerika Serikat. 

Kritik tersebut mencuat setelah pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang menyebut bahwa beras impor tersebut "bukan untuk konsumsi masyarakat Indonesia", namun tidak disertai penjelasan rinci mengenai definisi dan peruntukannya.

Baca Juga : Harga Beras Bergejolak, DPR Desak Pemerintah Evaluasi Tata Kelola Pangan

Firman menilai penjelasan pemerintah sejauh ini justru menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Istilah “beras khusus” yang digunakan dinilai terlalu abstrak dan multitafsir. 

Baca Juga : RI Resmi Swasembada Beras, Komisi IV: Pemerintah Harus Pastikan Kesejahteraan Petani

Tanpa transparansi yang jelas, kebijakan impor pangan terlebih di tengah isu ketahanan pangan dan perlindungan petani lokal berpotensi memicu kecurigaan publik.

“Kalau bukan untuk konsumsi masyarakat, lalu untuk siapa? Apa kriterianya disebut beras khusus? Apakah untuk kebutuhan industri tertentu, riset, atau segmen pasar tertentu? Pemerintah harus terbuka,” tegas Firman disela-sela melihat panen ayam, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga : Firman Soebagyo Ingatkan Bahaya Buzzer dan Hoaks, Masyarakat Diminta Bijak Bermedia Sosial

Sebagai anggota Komisi IV yang membidangi pertanian, pangan, dan kelautan, Firman menekankan, kebijakan impor beras bukan sekadar soal angka 1.000 ton. 

Baca Juga : DPR Desak Audit Ponpes Pati Usai Dugaan Kekerasan Seksual

Isu ini menyentuh sensitivitas nasional terkait kedaulatan pangan, perlindungan petani, serta konsistensi pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor.

Ia juga mengingatkan, komunikasi publik pemerintah dalam isu strategis tidak boleh setengah-setengah. Pernyataan yang tidak komprehensif berisiko memicu spekulasi liar dan memperlemah kepercayaan publik terhadap kebijakan pangan nasional.

Menurut Firman, jika menteri teknis tidak dapat menjelaskan secara detail dan komprehensif, sebaiknya pemerintah menunjuk juru bicara yang benar-benar memahami substansi persoalan. 

“Isu pangan bukan isu ringan. Penjelasannya harus berbasis data, argumentatif, dan mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.

Firman menilai, dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan tekanan terhadap daya beli masyarakat, setiap kebijakan impor harus disertai argumentasi yang kuat dan transparan. 

"Tanpa itu, publik akan menilai kebijakan tersebut tidak konsisten dengan semangat kemandirian pangan yang selama ini digaungkan pemerintah," tandasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)