Nusantaraterkini.co, MEDAN - Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtanadi Sumatera Utara, Andry Mahyar, menduga kuat bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumut dan Deli Serdang, pada Rabu (27/11/2024) lalu disebabkan oleh aktivitas perambahan hutan di kawasan Sibolangit.
Andry menduga kuat, aktivitas ilegal seperti penebangan pohon dan alih fungsi lahan dalam beberapa tahun terakhir telah merusak keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut.
"Sejak sembilan tahun lalu, aktivitas perambahan hutan ini berlangsung dan telah merusak sekitar 20 hektare dari total luas 80,1 hektare hutan resapan air milik Tirtanadi," ujar Andry dalam acara Bincang-bincang Podcast Nusantaraterkini.co, Selasa 3 Desember lalu.
Baca Juga : Polda Sumut Ungkap Mafia Solar di Tebingtinggi, Modus Gunakan 29 Barcode dan Truk Modifikasi
Kemudian, pada 19 Oktober 2024 lalu, pihaknya telah membuat laporan ke Polda Sumut. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor: STTLP/B/1479/X/SPKT/Polda Sumatera Utara.
Dalam laporan tersebut tertulis, dugaan Tindak Pidana Penyerobotan Tanah UU Nomor 1 Tahun 1946.
Menanggapi hal itu, Kabid Humad Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi memastikan bahwa proses penyelidikan telah berjalan. Seirisan dengan proses evakuasi korban bencana pada 27 November tersebut.
Baca Juga : Penempatan tak Sesuai, Agen Penyalur TKI Ilegal Dilaporkan ke Polda Sumut
"Terkait dengan laporan atau pengaduan, hal ini sudah ditindaklanjuti dalam rangka penyelidikan oleh kepolisian. Kita tunggu hasil dari proses ini, apakah ada indikasi atau bukti lebih lanjut," ucapnya kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (17/12/2024).
Namun, untuk hasil penyelidikan Hadi belum memberikan tanggapan.
Hingga saat ini, penyelidikan terkait perambahan hutan di Sibolangit terus berlangsung. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab serta mencegah bencana serupa terulang.
Banjir serta longsor yang terjadi di wilayah Sumut-Deli Serdang pada 27 November lalu menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Kondisi ini menjadi pengingat serius akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai penopang lingkungan hidup.
(cw7/nusantaraterkini.co)
