Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dulu Hijau, Kini Hitam: Wisatawan Tele Saksikan Wajah Samosir yang Berubah

Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Hutan di kawasan Menara Pandang Tele, ikon wisata unggulan Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, kini berubah warna. Dari hijaunya bentang alam Danau Toba yang menyejukkan mata, menjadi gelap dan hangus. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal Juli 2025 menyisakan jejak hitam di jantung pariwisata kawasan itu. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, SAMOSIR – Hutan di kawasan Menara Pandang Tele, ikon wisata unggulan Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, kini berubah warna. Dari hijaunya bentang alam Danau Toba yang menyejukkan mata, menjadi gelap dan hangus. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal Juli 2025 menyisakan jejak hitam di jantung pariwisata kawasan itu.

“Saya sudah tiga kali ke sini. Dulu semua bukit tampak hijau dari atas, sekarang malah hitam, terbakar. Sayang sekali,” kata Efrida Suryani, wisatawan asal Mandailing Natal, saat ditemui di pelataran Menara Pandang Tele, Sabtu (5/7/2025).

Baca Juga: Dampak Kebakaran Hutan, Pelaku Usaha di Menara Pandang Tele Mengeluh Pendapatan Jeblok

Tele, yang berada di Desa Partungkot Naginjang, Kecamatan Harian, selama ini dikenal sebagai spot terbaik menikmati panorama dari ketinggian. Namun, pemandangan di bawahnya kini didominasi bekas kebakaran. Asap dan bara masih tercium hingga ke pelataran menara.

100 Hektare Terbakar, Asap Menyelimuti Kawasan Wisata

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara menyebut, sejak Selasa (1/7/2025), kebakaran melanda setidaknya 100 hektare lahan di Kecamatan Harian dan Pangururan. Titik api pertama kali terpantau pada dini hari pukul 01.00 WIB, saat angin kencang dan musim kemarau mempercepat penyebaran.

“Yang menjadi persoalan di lokasi kan angin kuat. Itulah yang membuat api cepat merambat,” ujar Kabid Perlindungan, Penegakan Hukum, dan Peningkatan Kapasitas DLHK Sumut, Zainuddin Harahap.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Pinus di Tele Capai 125 Hektare

Zainuddin menyebut, vegetasi di lokasi berupa rumput ilalang yang mudah terbakar. “Pohon pinus hanya ada satu dua. Sisanya rumput kering,” jelasnya.

Saat ini, api disebut sudah padam. Namun, bara api masih aktif di sejumlah titik, membuat petugas tetap disiagakan untuk mencegah potensi kebakaran susulan.

Dugaan Pembakaran Lahan, Pelaku Masih Misterius

DLHK Sumut belum menyimpulkan penyebab utama kebakaran. Namun, ada indikasi kuat bahwa kebakaran terjadi akibat pembakaran lahan secara ilegal.

“Kami masih selidiki. Apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, itu belum bisa dipastikan. Tapi dugaan pembakaran lahan cukup kuat,” ujar Zainuddin saat dihubungi terpisah.

Sementara itu, hingga hari ini, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Samosir terkait insiden kebakaran yang berdampak langsung pada sektor pariwisata daerahnya. Nusantaraterkini.co telah mencoba menghubungi pihak Pemkab, namun belum mendapatkan jawaban.

Citra Pariwisata Toba Tercoreng!

Kondisi ini mencoreng wajah pariwisata Danau Toba yang selama ini digadang-gadang sebagai destinasi super prioritas nasional. Wisatawan yang datang berharap mendapat ketenangan dari panorama alam, justru disambut kepulan asap dan lahan hitam terbakar.

“Awalnya ke sini untuk melepas penat. Tapi lihat bukit dari atas malah bikin sedih. Ini akibat tangan-tangan jahil,” kata seorang wisatawan lainnya, yang enggan disebut namanya.

(cw7/nusantaraterkini.co)