Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Eksistensi Budaya, Dinamis dan Terus Berkembang Melalui Interaksi

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wakil Ketua JMSI Sumut M Sofyan Akbar. (Foto: dok/Nusantaraterkini.co)

Oleh: M Sofyan Akbar 

Eksistensi suatu budaya bukanlah sesuatu yang statis. Seiring berjalannya waktu, budaya akan terus berubah, berproses dan berkembang.

Perubahan ini tentu tidak dapat terjadi begitu saja, melainkan melalui interaksi, konstruksi dan rekonstruksi oleh masyarakat.

Pemahaman ini penting untuk melihat bagaimana budaya beradaptasi dengan perubahan zaman dan konteks sosial.

Mengapa budaya tidak statis? Pada dasarnya, budaya adalah hasil dari aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena manusia terus bergerak dan berinteraksi, maka budaya pun ikut berubah.

Perubahan ini bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan politik, kondisi ekonomi, hingga pertemuan dengan budaya lain.

Misalnya, dalam era digital saat ini, budaya (cara) berkomunikasi masyarakat telah mengalami pergeseran besar. Jika dulu komunikasi lebih bersifat langsung dan bertatap muka, kini interaksi lebih banyak terjadi secara virtual melalui media sosial, pesan instan, atau video call.

Baca Juga: Event Opera Batak Melestarikan Kearifan Lokal dan Ajak Anak Muda Menjaga Budaya

Fenomena ini tentu tidak hanya memengaruhi cara berkomunikasi, tetapi juga membentuk norma dan kebiasaan baru dalam kehidupan sosial.

Selain itu, globalisasi juga memengaruhi perubahan budaya. Pertukaran budaya melalui film, musik, kuliner, dan tren fesyen membuat masyarakat semakin terbuka terhadap budaya lain.

Hal ini menyebabkan asimilasi budaya yang menghasilkan bentuk-bentuk baru yang lebih beragam. Budaya sebagai proses Interaksi tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses panjang yang melibatkan interaksi antarindividu dan antarkelompok.

Proses ini dapat dilihat dalam bentuk tradisi yang mengalami perubahan makna atau bahkan praktik baru yang muncul karena pengaruh budaya lain. Sebagai contoh, penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari kini mulai bercampur dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Fenomena ini menghasilkan gaya bahasa baru yang lebih modern, namun tetap mengakar pada identitas lokal.

Contoh dinamika budaya di Indonesia, sebagai negara yang multikultural memiliki banyak contoh perubahan budaya akibat modernisasi dan digitalisasi. Salah satunya adalah tradisi mudik saat Lebaran.

Dahulu, masyarakat mudik dengan kendaraan umum atau pribadi, namun kini sudah banyak yang memanfaatkan platform daring untuk mencari tumpangan atau memesan tiket secara online.

Mudik tetap berlangsung, tetapi proses dan kebiasaannya sudah berubah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mudik, tidak perlu lagi membeli tiket secara offline mengingat kemajuan teknologi sehingga memudahkan untuk membeli tiket agar mudik meskipun hanya dari gadget.

Rekonstruksi budaya di era modern terjadi ketika masyarakat mulai memodifikasi praktik lama agar tetap relevan dengan kondisi kekinian. Hal ini dapat dilihat pada upacara adat yang kini dikemas lebih modern agar menarik bagi generasi muda.

Baca Juga: Mahasiswa Internasional UMSU Belajar Bahasa Lewat Wisata Budaya

Misalnya, pernikahan adat yang dulunya sakral dan eksklusif kini sering ditampilkan secara live di media sosial, agar lebih banyak orang dapat menyaksikannya meski dari jauh.

Perkembangan pariwisata juga mendorong rekonstruksi budaya. Banyak daerah wisata yang menyajikan atraksi budaya lokal dengan penyesuaian agar lebih mudah dipahami oleh wisatawan.

Misalnya, tarian tradisional yang diberi narasi atau disajikan dalam durasi yang lebih singkat agar menarik perhatian penonton.

Perlu diketahui bahwa, budaya adalah cermin kehidupan manusia yang selalu bergerak dan berkembang. Tidak ada budaya yang benar-benar statis karena interaksi, konstruksi, dan rekonstruksi selalu terjadi.

Memahami dinamika ini akan membantu kita lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di masyarakat. Dengan demikian, kita bisa menjadi warga yang lebih terbuka terhadap perubahan tanpa melupakan akar budaya asli kita.

Mari kita terus menjaga keberagaman ini dengan sikap saling menghargai dan terbuka terhadap pembaruan. (*)

Penulis adalah Wakil Ketua JMSI Sumut dan Direktur Nusantaraterkini.co