Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Fenomena 'Rojali dan Rohana' Potret Ketimpangan Ekonomi dan Budaya Sosial

Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pengamat Sosial dari FISH Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin. (Foto: Istimewa)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Media sosial tengah ramai membahas dua istilah unik yang mencuri perhatian di dunia ritel dan pusat perbelanjaan yakni Rojali dan Rohana.

Keduanya adalah akronim yang merujuk pada tipe pengunjung mal yang sering ditemui di akhir pekan atau musim liburan. Rojali adalah singkatan dari “Rombongan Jarang Beli”, sementara Rohana adalah “Rombongan Hanya Nanya”.

Menanggapi hal itu, Pengamat Sosial dari FISH Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin menyampaikan, fenomena rojali dan rohana tersebut bukan sekadar lelucon di media sosial lainnya. Ia adalah cermin sosial dari ketegangan antara struktur ekonomi yang timpang dan budaya sosial yang menuntut performa konsumsi.

Di balik tawa mereka yang “cuma nanya” atau “jarang beli”, tersembunyi narasi tentang ketidakstabilan ekonomi, pencarian identitas, dan tekanan sosial untuk tetap tampak layak di mata masyarakat.

Baca Juga : Prabowo Kritik Ekonomi Neolib: Bilang Kekayaan Akan Netes ke Bawah, Nyatanya 200 Tahun Gak Netes-Netes

Dalam lanskap konsumsi masyarakat urban masa kini, kata dia, istilah rojali dan rohana muncul sebagai bentuk baru dari interaksi sosial di ruang-ruang komersial dan digital.

Keduanya menandai pola kehadiran sekelompok orang di pusat perbelanjaan, lapak online, atau restoran yang tampak seperti konsumen aktif, namun berujung tanpa transaksi.

“Fenomena ini, bila dicermati lebih dalam, tidak semata-mata soal kebiasaan iseng atau ‘miskin mental’, melainkan mencerminkan dua tekanan struktural, berupa kondisi ekonomi yang tidak stabil dan hasrat eksistensial dalam budaya konsumsi modern,” katanya, Senin (28/7/2025).

Selain itu, kata Syaifudin, fenomena rojali-rohana juga bisa dilihat sebagai respon kelas menengah-rentan terhadap naiknya harga barang, inflasi, stagnasi pendapatan, dan ketimpangan distribusi sumber daya.

Banyak dari mereka tetap mempertahankan gaya hidup kelas menengah, seperti nongkrong, window shopping, atau sekadar masuk toko brand ternama, tanpa benar-benar mampu membeli produk yang ditawarkan.

“Ini adalah bentuk ‘simulasi konsumsi’ jika merujuk pada apa yang diungkapkan Jean Baudrillard, di mana individu ‘bermain peran’ sebagai konsumen tanpa transaksi nyata,” ujarnya.

Sementara dalam istilah sosiologi ekonomi, lanjut dia, ini disebut sebagai konsumsi simbolik, di mana tindakan mengasosiasikan diri dengan gaya hidup tertentu sebagai strategi mempertahankan identitas kelas sosial di tengah keterbatasan material.

Artinya, menurut dia, rojali dan rohana bukan tanda kemalasan atau penipuan sosial, tetapi strategi adaptif dalam situasi ekonomi yang sulit, di mana masyarakat mencari cara untuk tetap merasa “berpartisipasi” dalam budaya konsumsi dominan, walau secara finansial tak memadai.

Selain tekanan ekonomi, aspek psikososial dari fenomena ini juga penting. Dalam budaya digital dan ekonomi, eksistensi sosial makin diukur lewat partisipasi dalam aktivitas konsumsi, seperti nongkrong di tempat hits, posting di media sosial, atau sekadar terlihat “tahu tren”.

“Rojali dan rohana adalah bentuk ‘eksistensi performatif, tampil seolah-olah bagian dari budaya konsumsi, agar diakui dan tidak tersisih dari lingkaran sosialnya,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, fenomena ini berkelindan dengan teori dari sosiolog Erving Goffman (1922-1982) tentang dramaturgi sosial, di mana kehidupan sosial dilihat sebagai panggung sandiwara.

Orang-orang dalam kelompok rojali dan rohana sedang “memainkan peran sosial” sebagai konsumen, walau dalam kenyataan tidak melakukan pembelian. Mereka butuh “panggung” untuk eksis, dan pusat perbelanjaan atau kolom komentar e-commerce adalah panggungnya.

Selain itu, rojali dan rohana juga menunjukkan bagaimana masyarakat membentuk solidaritas semu berdasarkan kesamaan nasib ekonomi dan pencarian citra.

Mereka sering datang berkelompok, tertawa bersama, mencoba-coba produk, tapi dengan kesepahaman yakni “Kita tahu kita tak akan beli.” Ini menciptakan budaya komunalitas kosmetik, di mana nilai kebersamaan tidak terletak pada konsumsi aktual, tapi pada ritual tampil bersama, layaknya pertunjukan kolektif atas identitas.

Baca Juga : Eddy Soeparno: Transisi Energi Genjot Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Fenomena ini juga memperlihatkan ambivalensi kelas menengah urban, yang hidup di antara dua dunia, yaitu aspirasi hidup nyaman dan realitas hidup pas-pasan. Mereka dituntut tampil sukses, konsumtif, dan modis, namun secara ekonomi belum tentu mampu.

“Rojali dan rohana adalah cara untuk menjembatani jarak itu, semacam ilusi partisipasi dalam kemewahan yang dibentuk oleh kapitalisme konsumsi,” ujar Syaifudin.

Daya Beli Masyarakat Lemah

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan fenomena 'rojali' terjadi lantaran daya beli masyarakat kelas menengah turun akibat kenaikan harga bahan pokok dan energi.

Jangankan belanja, kelas menengah kini lebih memilih menyimpan uang di deposito, membeli emas digital, atau mengamankan dana dalam bentuk obligasi.

"Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kelas menengah-penopang utama konsumsi Indonesia-tidak lagi percaya diri untuk membelanjakan uangnya. Ketika inflasi barang kebutuhan pokok tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan, dan ketika ketidakpastian global membuat aset menjadi tempat perlindungan yang lebih menarik dibanding pengeluaran konsumtif. Maka wajar jika mal penuh, tetapi kasir sepi," terang pria akrab disapa Saka ini.

Ia mengatakan fenomena 'rojali' dan 'rohana' bukan tren gaya hidup. Ia adalah cermin ekonomi yang menggelap, mengingatkan stabilitas bukan soal statistik makro tetapi soal apakah orang cukup percaya diri untuk membelanjakan uangnya.

Jika kepercayaan itu hilang, sambungnya, maka konsumsi yang menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat.

Karena itu, ia menyarankan pemerintah tidak memandang belanja masyarakat sebagai indikator semu.

"Pemerintah perlu jujur membaca sinyal ini dan berpindah dari narasi pemulihan menuju strategi penguatan daya beli. Subsidi energi dan pangan yang lebih tepat sasaran, stabilitas harga domestik, serta penguatan jaring pengaman sosial menjadi keharusan, bukan pilihan," jelasnya.

Rojali-Rohana Bukan Kemiskinan

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyebut fenomena Rojali-Rohana belum tentu mencerminkan kemiskinan, tetapi menjadi sinyal sosial penting yang patut dicermati.

“Fenomena Rojali-Rohana memang belum tentu mencerminkan tentang kemiskinan. Tetapi tentunya ini relevan juga sebagai gejala sosial,” kata Ateng.

Menurut Ateng, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan bahwa kelompok pengeluaran atas cenderung menahan konsumsi. Namun, perubahan itu belum berdampak langsung terhadap angka kemiskinan.

“Kelompok atas memang agak menahan konsumsinya. Ini kita amati dari Susenas. Namun ini tentu tidak serta-merta berpengaruh ke angka kemiskinan karena itu kelompok atas saja,” ujarnya.

BPS mencatat jumlah penduduk miskin nasional pada Maret 2025 mencapai 23,85 juta orang atau 8,47 persen dari total penduduk. Angka ini menurun 0,2 juta orang dibandingkan September 2024.

Namun, di kawasan perkotaan, terjadi tren sebaliknya. Persentase penduduk miskin di kota naik 0,07 poin menjadi 6,73 persen, sementara di desa justru turun menjadi 11,03 persen. Pada saat yang sama, jumlah setengah penganggur di kota juga meningkat sebanyak 460 ribu orang dari Agustus 2024 ke Februari 2025.

“Kenaikan harga bahan pokok mempersempit ruang konsumsi rumah tangga bawah dan kelompok rentan. Kalau tidak diantisipasi, mereka bisa turun ke bawah garis kemiskinan,” ujar Ateng.

Ateng menekankan, fenomena seperti Rojali dapat menjadi alarm sosial bagi pemerintah agar tidak hanya fokus menurunkan angka kemiskinan semata, tetapi juga menjaga daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

“Rojali-Rohana adalah sinyal penting bagi pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memperhatikan stabilitas ekonomi rumah tangga kelas menengah bawah,” ujar Ateng. 

(cw1/nusantaraterkini.co)